Inflasi Bali Tembus 2,9%, Penyumbang Terbesar dari Komoditas Pangan

Inflasi Bali Tembus 2,9%, Penyumbang Terbesar dari Komoditas Pangan

Menutup akhir tahun 2025, tekanan harga di Bali kembali menguat setelah BPS Provinsi Bali mencatat inflasi tahunan pada Desember 2025 sebesar 2,9 persen--unsplash

DENPASAR, DISWAYBALI.ID - Menutup akhir tahun 2025, tekanan harga di Bali kembali menguat setelah Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bali mencatat inflasi tahunan pada Desember 2025 sebesar 2,9 persen.

Diketahui bahwa angka tersebut tidak hanya sekedar lebih tinggi dibandingkan dengan periode sebelumnya, tetapi juga menjadi yang paling tertinggi dalam tiga tahun terakhir seiring dengan meningkatnya permintaan masyarakat pada momentum libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2025/2026.

Selain itu ditandai dengan melonjaknya harga sejumlah komoditas pangan strategis, terutama dari kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang memberikan andil terbesar kepada kenaikan inflasi tersebut.

BACA JUGA:Pemkab Tabanan Gelar Persembahyangan Purnama Sasih Kanem sebagai Wujud Sradha Bhakti dan Kebersamaan

Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bali mencatat inflasi tahunan untuk bulan Desember 2025 yang sudah mencapai 2,91 persen dan menjadikan angka tersebut sebagai angka tertinggi dalam tiga tahun terakhir jika dibandingkan dengan periode yang sama di tahun 2023 dan 2024. Angka tersebut menunjukkan adanya kenaikan dibanding dengan inflasi tahun sebelumnya.

Kepala BPS Bali, Agus Gede Hendrayana Hermawan menjelaskan bahwa laju inflasi tahunan di tahun 2025 dipengaruhi oleh beberapa faktor, mulai dari permintaan yang meningkat pada musim libur Natal dan Tahun Baru hingga perubahan komoditas pangan dan gangguan musim hujan yang akhirnya memengaruhi distribusi barang.

Menurut data BPS, kelompok pengeluaran yang paling berpengaruh terhadap inflasi di Bali adalah makanan, minuman, dan tembakau. Penyumbang terbesar di antaranya adalah cabai rawit yang mengalami kenaikan harga hampir 96,39 persen dan diikuti oleh komoditas lain, seperti bawang merah, tomat, dan daging ayam ras.

Inflasi Bali di bulan Desember juga tercatat 0,70 persen secara bulanan (month-to-month) jika dibandingkan dengan November 2025. Dominasi kelompok makanan, minuman, dan tembakau memberikan kontribusi besar terhadap kenaikan harga tersebut.

Meski demikian, BPS memastikan bahwa angka inflasi tersebut masih berada dalam batas yang aman, yakni di bawah target maksimum 3,5 persen yang ditetapkan sebagai batas atas oleh otoritas yang terkait.

BACA JUGA:Akhiri Open Dumping, Pemkab Klungkung Tutup Permanen TPA Sente

Sementara itu, komoditas non-pangan seperti emas atau perhiasan dan kelompok jasa lainnya yang juga turut memberikan kontribusi terhadap kenaikan angka inflasi tahunan, meskipun andilnya lebih kecil dibandingkan dengan komoditas makanan dan minuman.

Peningkatan permintaan selama periode libur akhir tahun dan faktor musiman menjadi penopang utama dari tren kenaikan harga. Pemerintah daerah bersama dengan BPS dan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Bali terus memantau perkembangan inflasi untuk menjaga stabilitas harga di tengah dinamika permintaan dan pasokan.

Sumber:

Berita Terkait