Terombang-ambing Ombak, Paus Sperma Kerdil Kembali Terdampar di Pantai Tembles

Terombang-ambing Ombak, Paus Sperma Kerdil Kembali Terdampar di Pantai Tembles

Paus sperma kerdil kembali terdampar di Pantai Tembles usai sebelumnya sempat dilepaskan ke laut oleh warga dan petugas-nusabali-

JEMBRANA, DISWAYBALI.ID - Upaya penyelamatan terhadap seekor paus sperma kerdil yang terdampar di wilayah pesisir Jembrana, Bali, belum membuahkan hasil maksimal. 

Mamalia laut tersebut kembali ditemukan di bibir pantai setelah sebelumnya sempat dilepaskan ke laut oleh warga dan petugas.

Peristiwa ini terjadi di Pantai Tembles, Desa Penyaringan, Kecamatan Mendoyo. 

BACA JUGA:Setelah Dua Kali Peringatan Kemenhut, Mason Elephant Park Hentikan Elephant Riding

Paus berukuran sekitar 1,5 meter itu pertama kali diketahui berada di pantai pada Senin malam, 26 Januari 2026. Saat itu, kondisi hewan tersebut sudah tampak lemah.

Seorang warga yang memiliki warung di sekitar pantai menjadi saksi awal kejadian tersebut. 

Melihat kondisi paus yang tidak normal, warga lalu menghubungi aparat setempat. Tak lama berselang, warga bersama petugas berinisiatif mengevakuasi paus itu ke perairan yang lebih dalam.

Kapolsek Mendoyo Kompol I Wayan Sartika menyampaikan bahwa paus tersebut sempat berhasil didorong ke laut. Namun, upaya tersebut tidak bertahan lama. 

Kekuatan fisik paus yang terus menurun membuatnya kembali terseret ombak ke arah pantai.

BACA JUGA:Paus Raksasa Terdampar di Perairan Gilimanuk, Diduga Dipengaruhi Kondisi Laut

Benar saja, pada Selasa pagi, 27 Januari 2026, sekitar pukul 07.00 Wita, mamalia laut itu kembali ditemukan terdampar di area yang tidak jauh dari lokasi awal. 

Saat ditemukan untuk kedua kalinya, kondisinya dilaporkan semakin memprihatinkan.

Petugas gabungan dari kepolisian, penyuluh perikanan, dan warga setempat kembali turun ke lokasi. Dari pengamatan di lapangan, tubuh paus menunjukkan tanda-tanda luka memar yang terlihat dari perubahan warna kemerahan di beberapa bagian.

Karena berulang kali gagal dilepasliarkan dan kondisi paus semakin melemah, aparat kemudian berkoordinasi dengan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bali untuk penanganan lanjutan. Keputusan akhirnya diambil untuk mengevakuasi paus tersebut ke tempat yang lebih aman.

Sumber: