Singa Putih Bersayap Iringi Palebon Jro Mangku Gede Pura Payogan Agung Ketewel
Prosesi upacara palebon almarhum Jro Mangku Gede Pura Payogan Agung Ketewel, I Nyoman Widiana--Gianyar Daily
GIANYAR, DISWAYBALI.ID - Puncak upacara palebon almarhum Jro Mangku Gede Pura Payogan Agung Ketewel, I Nyoman Widiana, digelar pada Sabtu (31/1/2026).
Prosesi kremasi berlangsung khidmat dengan menggunakan petulangan Singa Petak, simbol sakral masyarakat Desa Adat Ketewel, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar, Bali.
Petulangan yang digunakan berupa patung singa putih bersayap dengan tinggi sekitar lima meter.
BACA JUGA:Dukung Pendidikan Tinggi, Beasiswa Gianyar AMAN 2026 Resmi Dibuka untuk Lulusan SMA dan SMK
Singa Petak dikenal sebagai lambang spiritual klan atau wangsa warga Desa Adat Ketewel yang sarat makna religius dan filosofis.
Perbekel Ketewel, I Putu Gede Widya Kusuma Negara, menjelaskan bahwa simbol singa putih bersayap tersebut memiliki keterkaitan erat dengan identitas masyarakat adat setempat.
Menurutnya dengan menggunakan petulangan itu bukan sekadar unsur estetika melainkan representasi nilai spiritual yang telah diwariskan secara turun-temurun.
Rangkaian palebon diawali dengan upacara keagamaan di Pura Payogan Agung Desa Adat Ketewel.
Setelah prosesi persembahyangan selesai, jenazah almarhum diarak menuju setra sekitar pukul 12.05 Wita. Arak-arakan dipimpin oleh tabuh baleganjur, disusul petulangan Singa Petak, kemudian bade setinggi enam meter yang membawa jenazah Jro Mangku Gede Widiana.
BACA JUGA:Alarm Krisis Laut Menggema dari Bali
Ratusan krama adat, keluarga, dan kerabat turut mengiringi prosesi hingga tiba di Setra Desa Adat Ketewel, Pantai Ketewel. Upacara kremasi dilaksanakan sekitar pukul 14.20 Wita dengan suasana yang tertib dan penuh penghormatan.
Sekitar tiga jam setelah proses pembakaran, abu sisa kremasi kemudian dilarung ke laut. Prosesi pelarungan dilakukan menggunakan perahu jukung, diiringi krama adat dari 11 banjar, keluarga besar, serta warga desa adat lainnya.
Widya, yang juga merupakan putra kandung almarhum, mengungkapkan bahwa penggunaan petulangan Singa Petak merupakan permintaan langsung dari ayahnya semasa hidup.
Permintaan tersebut dilandasi peran almarhum sebagai seorang pemangku yang sepanjang hidupnya mengabdikan diri dalam pelayanan spiritual.
Sumber: