Kabar Duka dari Gianyar: Anak Agung Gde Agung Bharata Tutup Usia di RSUD Sanjiwani

Kabar Duka dari Gianyar: Anak Agung Gde Agung Bharata Tutup Usia di RSUD Sanjiwani

Mantan Bupati Gianyar, Anak Agung Gde Agung Bharata, meninggal dunia pada Sabtu 21 Februari 2026-Pemkab Gianyar-

GIANYAR, DISWAYBALI.ID - Kabar duka datang dari Kabupaten Gianyar. Mantan Bupati Gianyar, Anak Agung Gde Agung Bharata, meninggal dunia pada Sabtu, 21 Februari 2026. 

Ia menghembuskan napas terakhir di RSUD Sanjiwani pada pukul 13.36 Wita dalam usia 76 tahun.

Informasi tersebut disampaikan Wakil Bupati Gianyar, Anak Agung Gde Mayun, dalam keterangannya pada Minggu (22/2/2026). Ia menjelaskan, almarhum sebelumnya telah menjalani perawatan intensif di RSUD Sanjiwani selama kurang lebih satu bulan terakhir.

BACA JUGA:Bulan Bahasa Bali 2026 Resmi Dibuka di Gianyar, Dorong Generasi Muda Lestarikan Bahasa dan Aksara Bali

Menurut Mayun, yang juga merupakan adik almarhum, kondisi Bharata sempat menunjukkan perkembangan positif hingga diperbolehkan kembali ke puri. 

Namun, kesehatannya kembali menurun sehingga harus dirujuk lagi ke rumah sakit dan mendapatkan penanganan di ruang ICU. Keluarga disebut telah berupaya maksimal selama proses perawatan tersebut.

Semasa hidupnya, Bharata dikenal memiliki perjalanan karier yang panjang di pemerintahan. 

Ia pernah bertugas di Sekretariat Negara dan menjabat sebagai Kepala Istana Kepresidenan Tampaksiring pada periode 1997–2003. Setelah itu, ia dipercaya memimpin Kabupaten Gianyar selama dua periode, yakni 2003–2008 dan 2013–2018.

Usai menuntaskan tugas sebagai kepala daerah, almarhum memilih lebih fokus pada kehidupan spiritual. Ia mendalami ajaran Weda dan menjalani laku wanaprastha dalam ajaran Hindu hingga akhirnya memantapkan diri sebagai sulinggih dengan gelar Ida Begawan Blebar. 

BACA JUGA:BPBD Gianyar Gelar Sosialisasi Adaptasi Perubahan Iklim dan PRB untuk Perkuat Ketahanan Desa Berkelanjutan

Mayun menyebut jalan spiritual tersebut menjadi bagian penting dari perjalanan hidup kakaknya, yang tak hanya dikenal sebagai pemimpin pemerintahan tetapi juga sosok yang ajeg menjaga dharma.

Rangkaian upacara palebon akan digelar pada 7 Maret 2026 di Setra Beng. Prosesi diawali dengan mesiram dan melelet pada 3 Maret, dilanjutkan munggah ngaskara lan ngaturan ayaban pada 5 Maret. Sebagai seorang sulinggih, upacara pelebon almarhum akan menggunakan sarana padma dan lembu putih.

Kepergian Ida Begawan Blebar dinilai bukan hanya kehilangan bagi keluarga besar puri, tetapi juga masyarakat Gianyar yang pernah dipimpinnya. 

Sosoknya dikenang sebagai figur yang menutup perjalanan hidup dengan pengabdian spiritual setelah menuntaskan tugas di pemerintahan.

Sumber: