Harga Cabai Meroket, Inflasi Bali Februari 2026 Sentuh 0,70 Persen

Harga Cabai Meroket, Inflasi Bali Februari 2026 Sentuh 0,70 Persen

Lonjakan harga cabai rawit tercatat menjadi pemicu utama inflasi di Provinsi Bali pada Februari 2026-Freepik-

DENPASAR, DISWAYBALI.ID - Lonjakan harga cabai rawit tercatat menjadi pemicu utama inflasi di Provinsi Bali pada Februari 2026. 

Data terbaru dari Badan Pusat Statistik menunjukkan inflasi bulanan Bali berada di angka 0,70 persen, dengan kelompok makanan, minuman, dan tembakau sebagai penyumbang terbesar.

Kepala BPS Provinsi Bali, Agus Gede Hendrayana Hermawan, dalam keterangannya pada Senin (2/3/2026) menjelaskan bahwa cabai rawit mencatat kenaikan harga paling tinggi. 

BACA JUGA:Disperindag Catat Kenaikan Cabai Rawit di Denpasar pada 1 Ramadhan 1447 H

Secara rinci, komoditas ini mengalami inflasi hingga 66,12 persen dan memberikan andil 0,27 persen terhadap total inflasi. Menurutnya, musim hujan yang belakangan terjadi cukup memengaruhi hasil produksi petani sehingga pasokan di pasar menjadi terganggu.

Ia juga menambahkan bahwa selain faktor cuaca, lonjakan harga tak lepas dari sisi permintaan. Momentum hari besar keagamaan seperti Imlek dan Ramadan turut mendorong kebutuhan bahan pangan meningkat. 

Dalam situasi stok yang menurun sementara permintaan naik, harga pun ikut terdorong ke atas.

Tak hanya cabai rawit, beberapa komoditas lain juga ikut menyumbang inflasi. Daging ayam ras tercatat mengalami kenaikan 3,86 persen dengan andil 0,11 persen. 

Emas perhiasan naik 10 persen dan memberi kontribusi 0,05 persen. Cabai merah pun terdongkrak 32,08 persen dengan andil 0,05 persen.

BACA JUGA:Harga Cabai di Karangasem Melonjak Jelang Nataru, Tembus Rp 80 Ribu per Kilogram

Di sisi berbeda, sejumlah barang justru mencatat deflasi. Harga bensin turun 1,40 persen dengan andil 0,07 persen. Wortel terkoreksi 15,91 persen dengan andil 0,02 persen. Daging babi dan bawang putih juga mengalami penurunan masing-masing 0,91 persen dan 1,55 persen.

Secara keseluruhan, data ini memperlihatkan bagaimana faktor cuaca dan momentum musiman masih menjadi variabel penting dalam pergerakan harga pangan di Bali, terutama menjelang periode hari besar keagamaan.

Sumber: