Harga Minyak Dunia Naik ke USD98 per Barel, Ketegangan Timur Tengah Picu Kekhawatiran Pasokan
Ilustrasi proses pengambilan minyak bumi-Freepik-
DENPASAR, DISWAYBALI.ID - Harga minyak dunia kembali bergerak naik di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah. Situasi tersebut membuat pelaku pasar energi kembali mencermati potensi gangguan pasokan minyak global.
Pada perdagangan Kamis (12/3/2026) sore, harga minyak Brent untuk kontrak Mei 2026 tercatat berada di level USD98,1 per barel. Angka ini naik sekitar 6,7 persen dibandingkan sebelumnya. Kenaikan harga dipicu perkembangan situasi konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran.
Di tengah kondisi tersebut, International Energy Agency (IEA) pada Rabu (11/3/2026) menyepakati langkah pelepasan cadangan minyak strategis sebesar 400 juta barel.
BACA JUGA:Kurs Rupiah Melemah ke Rp16.949 per Dolar AS, Gejolak Minyak Dunia Jadi Tekanan Baru
Kebijakan ini menjadi pelepasan cadangan terbesar yang pernah dilakukan organisasi tersebut. Langkah itu diharapkan dapat membantu meredam lonjakan harga minyak di pasar global.
Meski ada intervensi tersebut, kekhawatiran pasar belum sepenuhnya mereda. Pada hari yang sama dilaporkan terjadi insiden keamanan di kawasan jalur pelayaran energi utama dunia.
Tiga kapal disebut terkena proyektil di wilayah Selat Hormuz dan Teluk Persia. Peristiwa itu terjadi setelah Garda Revolusi Iran menembaki kapal yang dianggap tidak mematuhi perintah mereka di kawasan tersebut.
Juru bicara militer Iran, Ebrahim Zolfaqari, menyatakan bahwa negaranya tidak akan membiarkan pengiriman minyak menuju Amerika Serikat, Israel, maupun negara sekutu mereka. Ia juga memperingatkan harga minyak dunia bisa melonjak hingga mencapai USD200 per barel jika situasi terus memanas.
Dalam analisis yang dirilis Kamis (12/3/2026), platform investasi Stockbit menilai kenaikan harga minyak menunjukkan pasar masih mencemaskan kondisi pasokan energi dunia. Jika jalur di Selat Hormuz terganggu, dampaknya bisa sangat besar. Sekitar 20 juta barel minyak melewati jalur tersebut setiap hari. Jumlah itu setara dengan hampir seperlima perdagangan minyak dunia.
BACA JUGA:Cadangan BBM Hanya 26 Hari, Pemerintah Siapkan Gudang Minyak Raksasa
Analisis dari Macquarie Group juga menunjukkan bahwa volume cadangan yang dilepas IEA masih relatif terbatas. Jumlah tersebut diperkirakan hanya setara dengan sekitar 16 hari volume minyak yang biasa melintas di Selat Hormuz.
Pasar kini juga menunggu kejelasan mengenai jadwal pelepasan cadangan tersebut. Termasuk berapa banyak minyak yang akan dilepas setiap hari.
Secara keseluruhan negara anggota IEA memiliki cadangan minyak sekitar 1,2 miliar barel. Di luar itu masih terdapat kewajiban persediaan komersial sekitar 600 juta barel.
Menurut Stockbit terdapat dua faktor yang berpotensi membantu menstabilkan harga minyak. Faktor pertama adalah tambahan pasokan melalui pelepasan cadangan strategis. Faktor kedua adalah kemungkinan turunnya permintaan energi jika kebijakan suku bunga yang lebih ketat mulai menekan aktivitas ekonomi.
Sumber: