Mahasiswa Unud Soroti Tantangan Pariwisata dan Target Emisi Nol Bali
Sejumlah mahasiswa FEB Universitas Udayana bersama tim WRI Indonesia saat mengunjungi Kawasan Rendah Emisi Sanur.--Dok. WRI Indonesia
DENPASAR, DISWAYBALI — Mahasiswa Fakultas Ekonomi Bisnis (FEB) Universitas Udayana (Unud) menjajaki implementasi Kawasan Rendah Emisi Sanur, melalui kegiatan observasi bersama WRI Indonesia.
Mereka berkeliling menggunakan shuttle listrik dan berjalan kaki, untuk melihat langsung praktik mobilitas berkelanjutan di kawasan pesisir Sanur.
Kegiatan yang dikemas dalam Bali Bicara: Kawasan Rendah Emisi itu, sekaligus menjadi ruang diskusi mengenai masa depan pembangunan Bali.
Sanur dipilih karena menjadi percontohan integrasi keberlanjutan, tata ruang kota, dan mobilitas rendah emisi.
Mahasiswa FEB Universitas Udayana, Okan, menilai Bali menghadapi tantangan besar dalam menyeimbangkan sektor pariwisata dan target penurunan emisi.
BACA JUGA:Wali Kota Denpasar Hadiri Dharma Santhi Nyepi Isaka Warsa 1948 di Sanur
“Bali ini memiliki dua tujuan besar, mengingat kedua tujuan ini para realitanya cenderung bertentangan. Satu sisi ingin menarik kunjungan wisatawan sebanyak-banyaknya, namun pada sisi lain Bali ini memiliki visi mencapai Bali Emisi Nol Bersih/Bali Net Zero Emission di tahun 2045. Semakin banyak kunjungan pasti meningkatkan kebutuhan mobilitas,” ujarnya.
Ia melihat ketergantungan ekonomi Bali terhadap pariwisata konvensional masih cukup tinggi.
Karena itu, inisiatif Kawasan Rendah Emisi atau Bali Low Emission Zone Initiatives (BLEZI) dinilai dapat mendorong transformasi ekonomi yang lebih berkelanjutan.
Mahasiswa FEB Universitas Udayana lainnya, Komang Agus, melihat peluang besar yang bisa muncul dari penerapan BLEZI di Sanur. “Zero emisi ini bisa mengubah wajah Bali yang memberi kesan Bali yang nyaman dan green. Dalam kuliah ada studi ekonomi pembangunan berkelanjutan, yang sejalan dengan inisiatif ini. Dengan inisiatif ini tentu akan menarik minat investor untuk datang, dan berdampak pada pertumbuhan ekonomi,” tutur Komang.
BACA JUGA:Nature Positive Tourism Jadi Arah Baru Pariwisata Bali
Menurutnya, citra Bali sebagai destinasi yang nyaman dan ramah lingkungan akan semakin kuat. Kondisi tersebut berpotensi menarik investasi baru, sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi daerah.
Low Carbon Mobility Specialist WRI Indonesia, Maria Silaen, menjelaskan sektor pariwisata memberi kontribusi besar terhadap PAD Kota Denpasar.
“Semakin banyak mobilitas maka semakin banyak juga emisinya. Sekitar 41% emisi di tahun 2024 berasal dari sektor transportasi. Kita ingin mengurangi emisi tetapi ekonomi tetap tumbuh, jadi menyasar pada aktivitas yang mulai beralih menggunakan transportasi umum, kendaraan listrik, sepeda, dan berjalan kaki yang merupakan bagian dari mobilitas rendah emisi,” jelasnya.
Sumber: