Menkes Ungkap Segera ‘Suntik’ Rp20 Triliun untuk BPJS Kesehatan

Menkes Ungkap Segera ‘Suntik’ Rp20 Triliun untuk BPJS Kesehatan

Menkes RI, Budi Gunadi Sadikin (tengah) saat ditemui awak media usai menghadiri 67th Annual World Congress International College of Angiology (ICA) 2026, di The Westin Resort Nusa Dua, Badung, Jumat (31/7/2026).-Rivansky Pangau/disway.id-

BADUNG, BALI.DISWAY.ID – Menteri Kesehatan (Menkes) RI, Budi Gunadi Sadikin mengungkapkan pemerintah tengah menyiapkan suntikan dana sekitar Rp20 triliun.

Dana itu disiapkan untuk memperkuat kondisi keuangan BPJS Kesehatan yang masih menghadapi defisit.

Pernyataan tersebut disampaikan Budi saat menjawab pertanyaan awak media, mengenai rencana penetapan tarif baru layanan BPJS Kesehatan.

Budi mengatakan penguatan keuangan BPJS menjadi prioritas pemerintah. Dana tambahan diharapkan dapat masuk pada Agustus 2026.

“Yang pertama BPJS ini harus segera diinjeksi dana, karena kita tahu ada defisit,” ujarnya.

BACA JUGA:ICA 2026 Soroti Darurat Penyakit Jantung Indonesia, Jadi Penyebab Kematian Terbesar Kedua

“Saya berdoa, berusaha sekuat tenaga bersama Pak Dirut, mudah-mudahan Agustus ini Rp20 triliun bisa masuk,” lanjut Budi usai menghadiri 67th Annual World Congress International College of Angiology (ICA) 2026 yang dirangkaikan dengan 6th Indonesian Vascular Annual Scientific Congress (IndoVASC), di The Westin Resort Nusa Dua, Badung pada Jumat, 31 Juli 2026.

Budi juga meminta para peserta BPJS Kesehatan tidak perlu khawatir, terhadap kemungkinan perubahan tarif maupun manfaat layanan. Selama kepesertaan aktif, perlindungan kesehatan tetap diberikan.

“Tidak ada perubahan tarif. Selama dia sudah menjadi anggota BPJS dan kepesertaannya aktif, mereka tetap ter-cover,” tegasnya.

Dalam kesempatan yang sama, Budi mengungkapkan penyakit jantung masih menjadi penyumbang pembiayaan terbesar Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Karena itu, pemerintah terus memperkuat layanan kardiovaskular di seluruh Indonesia.

Pemerintah menggandeng Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI), rumah sakit rujukan, dan BPJS Kesehatan. Kolaborasi dilakukan untuk meningkatkan akses, kualitas layanan, dan efisiensi pembiayaan.

BACA JUGA:Dinkes Buleleng Perkuat Kesiapsiagaan Hadapi Ancaman Penyakit Emerging

“Sekarang didukung juga karena ketua BPJS-nya juga ahli jantung. Jadi, reimbursement mengenai jantung ada Pak Renan itu, ketua kolgium jantung yang sudah membantu meningkatkan akses, kualitas, dan juga cari jalan gimana harganya terjangkau,” katanya.

“Jadi klaimnya enggak terlalu besar juga. Karena BPJS ini salah satu klaim terbesar BPJS kan jantung,” kata Budi lagi.

Sumber: