Agentic AI Makin Canggih, Diskominfo Tabanan Dorong Masyarakat Bijak Manfaatkan Teknologi Digital
Agentic AI berkembang sebagai teknologi otonom. Diskominfo Tabanan dorong pemanfaatan AI yang aman dan bijak.--Dok. Pemkab Tabanan.
TABANAN, DISWAYBALI.ID - Perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) memasuki babak baru dengan hadirnya Agentic AI.
Teknologi ini tidak lagi sebatas menjawab pertanyaan seperti chatbot, tetapi mampu menjalankan rangkaian tugas secara lebih otonom untuk mencapai tujuan tertentu.
Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Tabanan menilai perkembangan Agentic AI perlu diikuti dengan pemahaman masyarakat mengenai manfaat sekaligus risikonya.
BACA JUGA:Pelebon I Gusti Ayu Badri Khidmat, Bade Padma Disamakan dengan Sang Suami Ida Bagus Mantra
Sekretaris Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Tabanan I Gusti Putu Winiantara, S.Sos., seizin Kepala Dinas, Jumat (11/9), menjelaskan Agentic AI memungkinkan sistem memahami instruksi, menyusun rencana, mengambil keputusan, menggunakan perangkat atau sumber daya eksternal, hingga mengevaluasi hasil pekerjaannya.
“Agentic AI merupakan perkembangan kecerdasan buatan yang memungkinkan sistem bekerja lebih otonom dalam mencapai suatu tujuan,” jelas Winiantara.
Menurutnya, perbedaan Agentic AI dengan AI reaktif terletak pada kemampuan sistem menguraikan tujuan besar menjadi sejumlah tugas yang dilakukan secara berurutan.
Proses tersebut berjalan melalui decision loop, mulai dari mengumpulkan data, memahami kondisi, menyusun rencana, menjalankan tindakan, kemudian mempelajari hasil untuk memperbaiki keputusan berikutnya.
BACA JUGA:100 Pejabat Tabanan Digembleng Bela Negara, Bekal Kepemimpinan untuk Perkuat Pelayanan Publik
Dalam pengembangannya, Agentic AI dapat menggabungkan sejumlah teknologi, seperti Natural Language Processing (NLP), machine learning, reinforcement learning, hingga computer vision.
Namun, kemampuan bertindak secara mandiri juga membuat aspek keamanan dan tata kelola menjadi semakin penting.
Salah satu risikonya berkaitan dengan perlindungan data dan privasi, terutama ketika agen memperoleh akses terhadap data sensitif atau berbagai sistem.
Risiko lain mencakup hallucination, bias model, adversarial prompt, hingga kemungkinan kesalahan ketika agen diberi kewenangan menjalankan transaksi atau mengambil keputusan.
“Semakin besar kewenangan yang diberikan kepada sebuah agen, semakin besar pula kebutuhan terhadap pengawasan, keamanan dan tata kelola,” kata Winiantara.
Sumber: