Dinkes Klungkung Perketat Screening Hantavirus di Nusa Penida

Senin 11-05-2026,21:51 WIB
Reporter : Rury Pramesti
Editor : Rury Pramesti

KLUNGKUNG, DISWAYBALI.ID - Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Klungkung memperketat screening dan surveilans hantavirus di wilayah Nusa Penida setelah meningkatnya kasus penyakit tersebut di Indonesia. 

Kawasan wisata itu menjadi perhatian khusus karena tingginya mobilitas wisatawan domestik maupun mancanegara, termasuk pekerja kapal pesiar yang datang dan pergi dari luar negeri.

Kepala Dinas Kesehatan Klungkung, I Gusti Ayu Ratna Dwijawati, mengatakan pihaknya telah meminta seluruh fasilitas kesehatan agar lebih aktif melakukan pengawasan. Menurut Ratna, langkah antisipasi terus dilakukan meski hingga kini situasi di Klungkung masih aman.

BACA JUGA:Pemkab Klungkung Wacanakan Nusa Penida Jadi Green Island Terintegrasi

"Sejauh ini aman. Saya juga sudah meminta surveilans kita untuk lebih aktif. Faskes juga untuk screening surveilans-nya kita perketat," ujar Ratna, Senin (11/5/2026).

Tak hanya memperketat screening, Dinkes Klungkung juga mulai menggencarkan edukasi kepada masyarakat mengenai hantavirus. Salah satunya dengan menyebarkan booklet berisi informasi tentang penyakit tersebut.

"Booklet-booklet tentang hantavirus juga sudah kita sebarkan," imbuhnya.

Ratna menegaskan sampai saat ini belum ada laporan kasus hantavirus di Klungkung. Namun tenaga medis di puskesmas maupun rumah sakit diminta lebih waspada, terutama terhadap pasien yang mengalami gejala menyerupai flu. Menurutnya, kesiapan fasilitas kesehatan terus dipastikan apabila sewaktu-waktu ditemukan pasien suspek hantavirus.

Kewaspadaan itu meningkat setelah Kementerian Kesehatan RI mencatat terdapat 23 kasus konfirmasi hantavirus di Indonesia sepanjang 2024 hingga 2026. 

BACA JUGA:TPA Sente Dawan Resmi Berhenti Beroperasi, Pemkab Klungkung Diminta Percepat Teknologi Termal

Dari total tersebut, tiga pasien dilaporkan meninggal dunia. Kasus paling banyak ditemukan di DKI Jakarta dan DIY dengan masing-masing enam kasus, disusul Jawa Barat sebanyak lima kasus.

Hantavirus sendiri merupakan penyakit zoonosis yang ditularkan melalui urin, kotoran, atau air liur tikus yang terinfeksi. Virus dapat menyebar lewat udara dalam bentuk partikel halus atau dust aerosol yang kemudian terhirup manusia. Di Indonesia, mayoritas kasus didominasi jenis Seoul Virus yang menyerang fungsi ginjal.

Sementara itu, Dinas Kesehatan Tabanan juga memastikan belum ada laporan kasus hantavirus di wilayahnya. Meski demikian, edukasi mengenai Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) terus dilakukan sebagai langkah pencegahan penyebaran virus.

Direktur Utama RSUD Tabanan, I Gede Sudiartha mengatakan penanganan pasien suspek hantavirus nantinya tidak akan dilakukan seperti saat pandemi COVID-19. Menurutnya, pasien dengan gejala awal yang mirip flu biasa akan terlebih dahulu menjalani pendeteksian awal.

"Investigasi langsung tidak seperti pasien COVID-19, karena gejalanya seperti pasien flu biasa. Baru pendeteksian awal saja, mudah-mudahan tidak sampai ada kasus hantavirus di Tabanan," ujar Sudiartha.

Kategori :