Ia mengungkapkan, Kota Denpasar saat ini masih mencatat angka exclusion error yang tinggi.
Banyak warga yang seharusnya menerima bantuan justru belum masuk dalam sistem penerima manfaat.
BACA JUGA:Ladies Program APEKSI Kenalkan Tari Pendet dan Gebogan kepada Istri Kepala Daerah
“Khusus di Kota Denpasar, angka exclusion error tercatat mencapai sekitar 93 persen,” ungkapnya.
Karena itu, pemerintah menargetkan digitalisasi bansos mampu menurunkan tingkat kesalahan penyaluran secara signifikan.
Angka inclusion error maupun exclusion error diharapkan dapat ditekan hingga di bawah 20 persen.
“Namun target kami adalah menurunkan angka inclusion error dan exclusion error secara signifikan. Jika saat ini masih sangat tinggi, kami berharap dapat menekannya hingga di bawah 20 persen, bahkan jika memungkinkan di bawah 10 persen di seluruh kabupaten dan kota,” pungkasnya.(*)