Perkembangan teknologi dan otomatisasi turut mengubah kebutuhan tenaga kerja. Kondisi tersebut menuntut perguruan tinggi untuk menyesuaikan sistem pembelajaran dengan perkembangan industri.
World Bank dalam laporan East Asia and Pacific: Resilient Growth in Turbulent Times yang diterbitkan 7 Oktober 2024 mencatat, adopsi robot industri di lima negara ASEAN, termasuk Indonesia, pada periode 2018-2022 diperkirakan berkontribusi terhadap terciptanya sekitar 2 juta pekerjaan formal bagi pekerja berketerampilan tinggi.
Namun, perkembangan tersebut juga diperkirakan menggeser sekitar 1,4 juta pekerjaan formal bagi pekerja berketerampilan rendah.
BACA JUGA:PAUD HI Gianyar Diperkuat, Pendidikan Anak Didorong Selaras dengan Kesehatan dan Perlindungan
Temuan tersebut menunjukkan perubahan teknologi tidak hanya menciptakan peluang kerja baru, tetapi juga mengubah kebutuhan keterampilan tenaga kerja.
Menjawab tantangan tersebut, BINUS University mengembangkan pendekatan pembelajaran, yang disesuaikan dengan perkembangan teknologi dan kebutuhan industri. Salah satunya melalui integrasi AI dalam ekosistem pendidikan.
Rektor BINUS University, Dr. Nelly, S.Kom., M.M., mengatakan pemanfaatan AI di lingkungan perguruan tinggi, harus diimbangi dengan kemampuan mahasiswa dalam menggunakan teknologi secara kritis, kreatif, dan bertanggung jawab.
Nelly menilai AI dapat menjadi alat pendukung proses pembelajaran sekaligus kreativitas mahasiswa.
Namun, perguruan tinggi tetap ‘harus memastikan mahasiswa memiliki kemampuan untuk memanfaatkan teknologi secara tepat.
“Perkembangan teknologi, termasuk kecerdasan buatan, mendorong perguruan tinggi untuk terus mengevaluasi pendekatan pembelajarannya agar tetap relevan dengan kebutuhan industri. Di BINUS, kami melihat AI sebagai salah satu alat, yang dapat mendukung proses belajar dan kreativitas mahasiswa,” jelasnya.
“Karena itu, yang penting bukan hanya memperkenalkan teknologi ini, tetapi juga membekali mahasiswa dengan kemampuan untuk menggunakannya secara kritis, kreatif, dan bertanggung jawab,” imbuh Nelly.
Selain mengintegrasikan teknologi dalam pembelajaran, BINUS juga mendorong pendidikan berbasis praktik dan pendekatan multidisipliner. Langkah ini bertujuan agar mahasiswa mampu menghubungkan pengetahuan akademik dengan kebutuhan dunia profesional.
Upaya tersebut diperkuat melalui ekosistem Multi-Helix yang diluncurkan BINUS University melalui Research and Technology Transfer (RTT).
Ekosistem ini menjadi wadah kolaborasi inovasi berbasis riset yang melibatkan perguruan tinggi, industri, pemerintah, komunitas, dan berbagai pemangku kepentingan lainnya.
Melalui kolaborasi tersebut, BINUS mendorong pengembangan kompetensi, pertukaran pengetahuan, serta penciptaan inovasi yang relevan dengan kebutuhan masyarakat dan dunia kerja.
Penyelenggaraan QS Higher Ed Summit: Asia Pacific 2026 sekaligus menjadi bagian dari upaya BINUS memperkuat jejaring internasional dan mengembangkan pendidikan tinggi yang adaptif terhadap perubahan zaman.(*)