Inflasi Bali 2025 Berada di Level Aman, BI Soroti Risiko Pangan dan Tekanan Awal 2026
Ilustrasi aneka sayuran merepresentasikan komoditas hortikultura yang berperan besar dalam pembentukan inflasi Bali-Freepik-
DENPASAR, DISWAYBALI.ID - Tekanan harga di Bali sepanjang 2025 masih berada dalam koridor aman.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan, inflasi tahunan Bali tercatat 2,91 persen, sementara secara bulanan pada Desember 2025 naik 0,70 persen.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali, Erwin Soeriadimadja, menyebut capaian tersebut masih selaras dengan sasaran inflasi nasional 2,5 persen plus minus satu persen. Pernyataan itu disampaikannya dalam keterangan resmi pada Kamis (8/1/2026).
BACA JUGA:Pelindo Catat Lonjakan Kapal Cruise di Celukan Bawang Bali Utara
Menurut Erwin, kondisi inflasi yang relatif terkendali tidak lepas dari kinerja perekonomian Bali yang sepanjang 2025 diperkirakan tumbuh solid di kisaran 5,0 hingga 5,8 persen.
Meski begitu, tekanan harga tetap muncul, terutama dari kelompok makanan, minuman, dan tembakau.
Ia menjelaskan bahwa curah hujan tinggi di sejumlah wilayah sentra produksi menyebabkan pasokan pangan terganggu.
Situasi tersebut mendorong kenaikan harga beberapa komoditas strategis, seperti cabai rawit dan bawang merah.
Selain faktor pangan, biaya jasa pemeliharaan atau servis juga ikut memberi andil terhadap inflasi bulanan Desember.
BACA JUGA:UMK Bali 2026 Resmi Naik! Ini Daerah dengan Upah Paling Tinggi
Di sisi lain, laju inflasi Bali tidak melonjak lebih tinggi karena tertahan oleh penurunan harga sejumlah kebutuhan pokok. Komoditas seperti beras, cabai merah, kangkung, canang sari, hingga ikan tongkol tercatat mengalami penurunan harga dan membantu meredam tekanan inflasi.
Meski inflasi masih terjaga, BI Bali tetap mencermati potensi risiko ke depan.
Lonjakan permintaan selama periode libur akhir tahun yang berlanjut ke awal 2026, serta tren kenaikan harga emas global, dinilai berpotensi memicu tekanan harga lanjutan.
Selain itu, puncak musim hujan juga berisiko menekan produksi hortikultura, menghambat distribusi, serta meningkatkan ancaman hama tanaman.
Sumber: