DENPASAR, DISWAYBALI.ID - Intermittent fasting semakin sering dibicarakan bukan hanya di kalangan pelaku diet, tetapi juga mereka yang ingin menjalani gaya hidup yang lebih seimbang. Tanpa aturan menu yang kaku, metode ini justru menawarkan fleksibilitas waktu makan yang dianggap lebih realistis untuk rutinitas modern.
Namun di balik kesederhanaannya, intermittent fasting tetap membutuhkan pemahaman agar tidak dijalani dengan cara yang ekstrem dan justru berdampak negatif bagi tubuh. Meskipun terdengar mudah, tetapi biasanya kesalahan dalam memulai yang sering kali terjadi.
Salah satu contoh kesalahan yang kerap terjadi saat intermittent fasting, seperti berpuasa terlalu lama atau mengabaikan kebutuhan nutrisi justru dapat membuat tubuh lemas dan aktivitas terganggu, maka dari itu penting untuk melihat intermittent fasting bukan sebagai tantangan untuk menahan lapar, tetapi sebagai proses membangun kebiasaan makan yang lebih seimbang dan realistis dalam jangka panjang.
BACA JUGA:Bukan Sekedar Tren, Ini Khasiat Intermittent Fasting dalam Kehidupan Sehari-hari
Intermittent fasting bukan lagi sekedar tren, tapi mulai dipandang sebagai bagian dari gaya hidup yang lebih sadar pola makan. Metode ini tidak mengatur apa yang harus dimakan secara ketat, melainkan kapan waktu makan dilakukan.
Secara sederhana, intermittent fasting adalah pola makan dengan membagi waktu antara puasa dan jendela makan (eating window). Salah satu pola paling populer adalah 16:8, yaitu 16 jam puasa dan makan dalam rentang waktu 8 jam.
Lalu ada pola yang lebih mudah, yaitu 14:10 yang kerap direkomendasikan untuk para pemula agar tubuh tidak kaget. Dengan konsep diet yang seperti itu, intermittent fasting dianggap lebih fleksibel dan mudah untuk diadaptasi, terutama bagi para pekerja yang memiliki rutinitas pekerjaan yang padat.
Bagi yang baru ingin mencoba, ada beberapa tips penting agar intermittent fasting bisa dijalani dengan aman dan nyaman sebagai bagian dari lifestyle sehari-hari.
Pertama, lakukan secara bertahap. Tidak perlu langsung memaksakan puasa selama 16 jam, kalian bisa melakukannya dengan memperpanjang jarak antara makan malam dan sarapan, misalnya 12 jam menjadi 14 jam. Adaptasi perlahan membantu tubuh menyesuaikan diri tanpa lemas yang berlebihan.
BACA JUGA:Super Flu H3N2 Terdeteksi di Indonesia, Ini Dia Gejala dan Cara Mencegahnya
Kedua, perhatikan asupan saat jendela makan. Kesalahan umum adalah menganggap intermittent fasting bebas ingin makan apa saja. Padahal kualitas makanan tetap berperan penting. Pastikan menu yang dimakan mengandung protein, serat, dan lemak agar kenyang lebih lama dan energi tetap stabil.
Ketiga, jaga hidrasi. Saat berpuasa, tubuh tetap membutuhkan cairan. Air putih, teh tawar, atau kopi tanpa gula umumnya masih diperbolehkan. Kurang minum justru sering menjadi penyebab pusing dan lemas saat menjalani intermittent fasting.
Keempat, sesuaikan dengan aktivitas harian. Intermittent fasting tidak harus dilakukan setiap hari. Jika ada jadwal kerja yang berat atau aktivitas yang tinggi, kalian bisa menyesuaikan. Tujuan utamanya adalah konsistensi jangka panjang bukan memaksakan diri.
Selain tips, penting juga untuk memahami kesalahan yang sering terjadi. Banyak pemula yang langsung mencoba puasa terlalu lama dan melewatkan makan tanpa persiapan atau justru membalasnya dengan makan yang berlebihan. Ada juga yang tetap mengonsumsi minuman manis saat puasa, sehingga manfaatnya kurang optimal.
Meski terlihat sederhana, intermittent fasting tidak cocok untuk semua orang. Ibu hamil, menyusui, penderita gangguan makan, atau mereka dengan kondisi kesehatan tertentu sebaiknya berkonsultasi dengan dokter sebelum memulai berpuasa.