TABANAN, DISWAYBALI.ID - Industri kuliner Bali sedang berada di titik paling sibuk sekaligus paling menentukan dalam sejarahnya.
Restoran baru bermunculan, investor asing masuk dengan percaya diri, konsep chef-led semakin dominan, dan standar internasional menjadi tolok ukur.
Namun di tengah pertumbuhan cepat itu, satu pertanyaan mengemuka: ke mana arah industri ini akan dibawa?
BACA JUGA:Cadangan BBM Hanya 26 Hari, Pemerintah Siapkan Gudang Minyak Raksasa
Pertanyaan tersebut menjadi latar dari penyelenggaraan Nuanu Future Talks: Gastronomy Leaders yang digelar pada 4 Maret 2026 di Nuanu Creative City.
Forum satu hari ini mempertemukan pemilik restoran, chef, investor, hingga pelaku hospitality untuk membicarakan fondasi yang lebih jarang disorot: regulasi, keberlanjutan, tata kelola, dan arah bisnis jangka panjang.
Di tengah euforia pembukaan restoran dan gemerlap daftar tunggu, isu kepatuhan hukum, praktik berkelanjutan, manajemen tim, hingga ketahanan bisnis justru menjadi penentu siapa yang akan bertahan.
Bali yang kini menjadi etalase kuliner Asia Tenggara, tak lagi bisa berjalan dengan pendekatan sporadis.
BACA JUGA:Lebaran 2026 Diperkirakan 21 Maret, Pemerintah Gelar Sidang Isbat 19 Maret
“Bali tidak lagi membutuhkan sekadar opini tentang dunia kulinernya. Yang dibutuhkan adalah ruang di mana orang-orang yang benar-benar terlibat dan bekerja di dalamnya, bisa berpikir dan berdiskusi bersama. Itulah yang sedang kami bangun di Nuanu Creative City. Sebuah platform tempat beragam perspektif bertemu dan menciptakan momentum nyata,” ujar Lev Kroll, CEO Nuanu Creative City.
Ia menambahkan, kuliner menjadi titik awal yang paling alami untuk Future Talks.
“Seiring kami mempersiapkan Sutala Market sebagai destinasi berbasis gastronomi, kami ingin menghadirkan yang terbaik dari dunia ke Indonesia, sekaligus memastikan yang terbaik dari Indonesia terwakili di sana. Karena itu, kami duduk bersama para talenta terbaik, untuk memastikan langkah ini kami jalankan dengan tepat,” imbuhnya.
Pernyataan tersebut bukan sekadar visi, tetapi juga sinyal bahwa Nuanu tengah memposisikan diri sebagai ruang kuratorial, bukan hanya pengembang destinasi.
Forum ini sekaligus menjadi langkah awal menuju peluncuran Sutala, pusat gastronomi terbaru yang akan menjadi jangkar F&B di kawasan tersebut.
BACA JUGA:BPS Bali Ungkap Wisman Januari 2026 Turun 12,30 Persen