Kurs Rupiah Melemah ke Rp16.949 per Dolar AS, Gejolak Minyak Dunia Jadi Tekanan Baru

Senin 09-03-2026,22:35 WIB
Reporter : Rury Pramesti
Editor : Rury Pramesti

DENPASAR, DISWAYBALI.ID - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat kembali melemah pada penutupan perdagangan Senin (9/3/2026). Berdasarkan data pasar, rupiah turun 24 poin atau sekitar 0,15 persen sehingga berada di posisi Rp16.949 per dolar AS. Sementara itu, kurs referensi Bank Indonesia melalui Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) juga menunjukkan pelemahan dengan posisi di Rp16.974 per dolar AS.

Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi menilai tekanan terhadap rupiah tidak terlepas dari faktor eksternal, terutama lonjakan harga minyak dunia. 

Dalam analisanya, harga minyak global disebut melonjak hingga sekitar 30 persen dan sempat menembus level di atas USD100 per barel, mendekati posisi tertinggi yang pernah terjadi pada awal Perang Rusia–Ukraina pada 2022.

BACA JUGA:BNI Dukung Pembiayaan Perumahan di Singkawang, 200 Peserta Ikut Akad KPP dan FLPP

Menurut Ibrahim, kenaikan harga minyak tersebut dipicu oleh meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah. Serangan udara yang dilancarkan Israel dan Amerika Serikat terhadap fasilitas minyak Iran selama akhir pekan memicu respons dari Teheran yang membalas dengan meluncurkan serangan rudal ke sejumlah fasilitas minyak di wilayah Timur Tengah.

Situasi kian memanas setelah Iran dilaporkan menyerang kapal-kapal yang melintas di Selat Hormuz, jalur pelayaran yang dikenal sebagai salah satu titik distribusi minyak terpenting bagi negara-negara Asia. 

Gangguan pada jalur tersebut berpotensi menghambat pasokan minyak global, mengingat sekitar 20 persen suplai minyak dunia melewati kawasan tersebut.

Di sisi lain, dinamika politik dalam negeri Iran juga turut menjadi perhatian pasar. Pada hari yang sama, Iran menunjuk Mojtaba Khamenei untuk menggantikan ayahnya, Ali Khamenei, sebagai pemimpin tertinggi negara tersebut. Pergantian ini dinilai memperlihatkan bahwa kelompok garis keras masih memiliki pengaruh kuat di Teheran, terlebih setelah meningkatnya ketegangan dengan Amerika Serikat dan Israel.

Dari kawasan Asia, sentimen datang dari data inflasi China. Pemerintah China mencatat inflasi indeks harga konsumen pada Februari mencapai 1,3 persen secara tahunan, lebih tinggi dibanding perkiraan pasar yang berada di kisaran 0,9 persen. Angka tersebut juga menjadi laju kenaikan tercepat dalam tiga tahun terakhir.

BACA JUGA:BNI Siapkan Rp23,97 Triliun Uang Tunai Jelang Lebaran 2026

Kenaikan inflasi tersebut dipicu meningkatnya konsumsi masyarakat selama periode libur panjang Tahun Baru Imlek, terutama pada sektor perjalanan, jasa, serta barang-barang konsumsi non-pokok. 

Meski demikian, inflasi pada indeks harga produsen masih tercatat mengalami kontraksi sehingga pelaku pasar masih menunggu kepastian apakah tren inflasi di China dapat bertahan setelah lonjakan permintaan selama masa liburan.

Sementara dari dalam negeri, lonjakan harga minyak dunia juga menjadi perhatian serius bagi fiskal nasional. Ibrahim menyebut harga minyak global kini telah menyentuh sekitar USD92 per barel, level tertinggi sejak 2020. Angka tersebut jauh di atas asumsi makro dalam APBN 2026 yang menetapkan harga minyak di kisaran USD70 per barel.

Ia memperkirakan kondisi ini berpotensi menambah beban defisit anggaran hingga sekitar Rp6,8 triliun. Bahkan jika harga minyak terus meningkat hingga mendekati atau melampaui USD100 per barel, dampaknya dapat menekan kondisi fiskal nasional secara signifikan.

Dalam skenario terburuk, defisit APBN terhadap Produk Domestik Bruto berpotensi mendekati 4 persen, angka yang melampaui batas 3 persen sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara.

Kategori :