DENPASAR, DISWAYBALI.ID - Pemerintah Provinsi Bali mengambil langkah antisipatif menjelang pelaksanaan dua hari besar keagamaan yang waktunya berdekatan pada tahun ini.
Untuk menjaga situasi tetap kondusif, Pemprov Bali bersama sejumlah unsur terkait menerbitkan seruan bersama mengenai pelaksanaan Hari Suci Nyepi Tahun Caka 1948 yang bertepatan dengan malam takbiran Idulfitri 1447 Hijriah pada tahun 2026.
Hal tersebut disampaikan oleh Gubernur Bali, Wayan Koster, saat membuka Rapat Koordinasi Penanganan Konflik Sosial yang berlangsung di Wiswa Sabha Utama Kantor Gubernur Bali pada Senin (16/3/2026).
BACA JUGA:Sambut Nyepi Caka 1948, Jimbaran Hijau Salurkan Sembako untuk Lansia di Desa Adat Jimbaran
Dalam kesempatan itu dijelaskan bahwa seruan bersama tersebut merupakan hasil kesepakatan antara Pemerintah Provinsi Bali, unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah Provinsi Bali, Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Bali, serta Forum Kerukunan Umat Beragama Provinsi Bali.
Kesepakatan ini bertujuan menjaga ketertiban dan keamanan masyarakat sekaligus memperkuat hubungan harmonis antarumat beragama di Bali.
Melalui seruan tersebut, seluruh pihak diharapkan dapat saling menghormati pelaksanaan ibadah masing-masing sehingga rangkaian perayaan Nyepi maupun Idulfitri dapat berlangsung dengan khidmat.
Pemerintah daerah juga menekankan pentingnya menjaga suasana Bali tetap aman dan damai di tengah perbedaan tradisi keagamaan yang berlangsung hampir bersamaan.
Rapat koordinasi yang digelar tersebut mengangkat tema "Mitigasi Potensi Konflik Sosial Menjelang Hari Raya Nyepi Caka 1948 dan Idulfitri 1447 Hijriah dalam Rangka Mewujudkan Kerukunan Sosial".
BACA JUGA:Nyepi 2026 di Bali, Bandara Ngurah Rai Hentikan Penerbangan Selama 24 Jam
Forum ini menghadirkan sejumlah narasumber dari unsur keamanan dan lembaga pemerintah, antara lain Pangdam IX/Udayana, Kapolda Bali, Kepala Pusat Kerukunan Umat Beragama Kementerian Agama, serta Kepala Bagian Operasi Badan Intelijen Negara Daerah Bali.
Melalui rapat koordinasi ini, pemerintah bersama seluruh pemangku kepentingan di Bali berupaya memperkuat sinergi dalam menjaga stabilitas sosial, terutama menjelang dua momentum keagamaan besar yang diperkirakan melibatkan aktivitas masyarakat dalam jumlah besar.