Ekajaya Patra Meluncur Juni 2026, Perkuat Konektivitas Bali-Gili

Sabtu 30-05-2026,21:06 WIB
Reporter : Rivansky Pangau
Editor : Rury Pramesti

Kapal ini dirancang beroperasi jauh di bawah kapasitas maksimal HTX58.

Konsep tersebut memberikan margin kerja yang lebih besar. Efisiensi bahan bakar tetap terjaga, sekaligus mengurangi beban mesin untuk operasi jangka panjang.

Nama Patra berasal dari bahasa Sanskerta dan Jawa Kuno-Bali. Kata tersebut memiliki arti daun dan sesuatu yang layak.

BACA JUGA:BTN Dukung Transaksi Digital Indonesia Coffee Expo 2026 Lewat Aplikasi Bale

Dalam tradisi Bali, pepatraan dikenal sebagai ornamen daun merambat pada ukiran pura.

Ornamen itu melambangkan semangat alam yang terus mengalir.

Filosofi tersebut menjadi inspirasi utama dalam perancangan kapal.

Patra dirancang melintasi Selat Lombok dengan elegan, serta menghormati laut yang dilayarinya.

“Patra bukan sekadar kapal, ini janji kami membawa wisatawan dan tradisi ke depan. Dengan terminal baru dan kapal flagship ini, kami membayangkan ulang seperti apa island hopping di Bali,” ujar I Ketut Sugita, General Manager Ekajaya Fast Ferry pada Jumat, 29 Mei 2026.

BACA JUGA:Bupati Gianyar Terima Kunjungan DPRD DKI Jakarta, Bahas Inovasi dan Pembangunan Daerah

Selain mengedepankan teknologi, Patra juga dirancang lebih ramah lingkungan.

Sistem waterjet yang digunakan tidak memiliki baling-baling terbuka di bawah lambung kapal.

Impeller berada sepenuhnya di dalam badan jet. Desain ini dinilai lebih aman bagi lumba-lumba, penyu, dan pari manta di Selat Lombok.

Kapal tersebut juga memiliki draft yang lebih dangkal. Kondisi itu membantu meminimalkan gangguan terhadap dasar laut di kawasan terumbu sensitif Kepulauan Gili.

Ekajaya memilih BBTF 2026 sebagai panggung peluncuran produk terbarunya. Ajang ini menjadi tempat bertemu para pelaku industri pariwisata dari berbagai negara.

Target pasar yang dibidik meliputi tour operator internasional, wholesaler, MICE organizer, DMC, hingga agen perjalanan premium.

Kategori :