Meski demikian, lanjut Achris, sejumlah risiko masih membayangi pada semester kedua 2026.
“Tingginya kunjungan wisatawan mancanegara selama Juli hingga September, diperkirakan mendorong permintaan barang dan jasa,” sebutnya.
BACA JUGA:Gubernur Bali Wayan Koster Dorong Atma Wedana Massal Perkuat Desa Adat
Di sisi lain, beberapa faktor seperti iklim dan ketidakpastian situasi global masih harus diwaspadai.
“Ketidakpastian cuaca yang disertai potensi El Nino kuat yang dapat memengaruhi produksi pertanian. Serta tetap tingginya biaya angkutan barang di tingkat global, yang memberikan tekanan terhadap harga barang impor,” tegasnya.
Untuk menjaga stabilitas harga, imbuh Achris, pihaknya terus memperkuat sinergi bersama pemerintah daerah. “Upaya TPID berfokus pada 4K, yaitu
keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, dan komunikasi yang efektif,” tukasnya.
Adapun implementasinya dilakukan melalui Gerakan Pengendalian Inflasi Pangan Sejahtera (GPIPS) Balinusra 2026.
BACA JUGA:Ribuan Krama Batur Napak Tilas Rute Evakuasi Leluhur Tahun 1926 Silam
Program itu mencakup Rakor Inflasi TPIP-TPID, Gerakan Pangan Murah, pemantauan harga, distribusi pangan, hingga penguatan kerja sama antardaerah.
Melalui berbagai langkah tersebut, inflasi Bali sepanjang 2026 diprakirakan tetap terjaga.
Targetnya tetap berada dalam kisaran sasaran inflasi nasional sebesar 2,5 persen plus minus satu persen.(*)