Art & Bali 2026 Datangkan 10.000 Pengunjung, Hampir 300 Karya Terjual

Senin 21-09-2026,10:53 WIB
Reporter : Rivansky Pangau
Editor : Rury Pramesti

Panel tersebut juga menghadirkan Lev Kroll, CEO Nuanu Creative City, serta Budiman Ong, Founder dan Creative Director ONG CEN KUANG sekaligus Co-Founder Jia CURATED. Diskusi tersebut dimoderatori oleh Kelsang Dolma dan menjadi bagian dari Nuanu Future Talks: Fashion & Art.

Irene Umar menilai ruang pertemuan antara seniman, desainer, perajin, dan pembeli menjadi salah satu bagian penting dalam pertumbuhan ekonomi kreatif Indonesia.

“Ekonomi kreatif Indonesia tumbuh ketika seniman, desainer, dan perajin memiliki ruang untuk bertemu dengan pembeli serta memperkenalkan karya mereka kepada dunia. Art & Bali menunjukkan bahwa Bali memiliki talenta, audiens, dan platform yang mampu membawa percakapan bermakna tentang seni dan budaya kontemporer ke panggung yang lebih luas,” ungkap Irene.

BACA JUGA:Art & Bali 2026 Perkuat Posisi Bali Sebagai Destinasi Seni, Desain dan Budaya

Art & Bali 2026 juga mendapat dukungan dari Pemerintah Kabupaten Tabanan, mengingat Nuanu Creative City berada di wilayah tersebut. Wakil Bupati Tabanan I Made Dirga mengatakan penyelenggaraan pameran seni internasional tersebut turut membuka peluang bagi seniman, pelaku kreatif, dan usaha lokal.

“Kami bangga Tabanan menjadi tempat berlangsungnya pameran seni internasional berskala besar seperti Art & Bali. Kehadiran acara ini tidak hanya menarik lebih banyak pengunjung ke Tabanan, tetapi juga membuka peluang bagi seniman, pelaku kreatif, dan usaha lokal untuk berkembang. Ini juga menunjukkan bahwa Tabanan memiliki potensi besar untuk ikut membentuk perkembangan seni dan budaya Bali ke depan, dengan tetap berpijak pada kekayaan budaya yang telah kita miliki,” jelas I Made Dirga.

Pertumbuhan Art & Bali juga terlihat dari pengalaman kolektor yang kembali hadir pada penyelenggaraan tahun kedua. Salah satunya Tatiana Azarkh, kolektor yang berbasis di Bali.

Setelah membeli karya seni pertamanya di Art & Bali 2025, tahun ini Tatiana kembali dan membeli sembilan karya. Kala itu, dirinya membeli karya dari Tonyraka, G13, dan Agung Rai Fine Art Gallery.

“Saya selalu memiliki ketertarikan besar terhadap seni, tetapi saya masih tergolong baru dalam dunia koleksi. Tahun lalu saya membeli dua lukisan pertama saya di Art & Bali, dan tahun ini saya kembali dan membeli sembilan karya dari Tonyraka, G13, dan Agung Rai Fine Art Gallery. Setiap karya memiliki cerita yang dapat saya dengar secara langsung,” tutur Tatiana.

Dari sisi peserta internasional, G13 Gallery dari Kuala Lumpur menjadi satu-satunya galeri asal Malaysia yang berpartisipasi tahun ini. Founder G13 Gallery, Kenny Teng, mengatakan Art & Bali mempertemukan galeri dengan kolektor, pengunjung internasional, serta komunitas kreatif yang lebih luas.

BACA JUGA:Nuanu Luncurkan FOTO Bali Award, Perkuat Ekosistem Fotografi Indonesia

“Art & Bali menawarkan sebuah platform yang segar dan sangat engaging bagi G13 Gallery, dengan jumlah pengunjung yang kuat serta perpaduan yang khas antara kolektor, penikmat seni, pengunjung internasional, dan komunitas kreatif yang lebih luas. Sebagai galeri yang berkomitmen menghadirkan seniman Malaysia dan regional, kami melihat Art & Bali sangat relevan dalam menciptakan percakapan dan koneksi baru di Asia Tenggara. Art fair ini diselenggarakan dengan penuh pertimbangan dan profesionalisme, dan kami melihat Art & Bali sebagai platform yang menjanjikan, dengan potensi kuat untuk berkembang menjadi salah satu titik temu penting bagi seni kontemporer regional,” jelas Kenny.

Sementara itu, Lanö Contemporary Art Gallery yang berbasis di Bali membawa perspektif lokal dalam penyelenggaraan Art & Bali 2026.

Founder Lanö Contemporary Art Gallery, Kemalezedine, mengatakan keikutsertaan tersebut menjadi kesempatan untuk menghubungkan seniman dan gagasan dari Bali serta Indonesia dengan ekosistem seni internasional.

“Lanö didirikan dari keinginan untuk menciptakan ruang di mana seni kontemporer dapat tumbuh melalui dialog dengan tradisi, masa kini, dan lanskap budaya Indonesia yang terus berkembang. Bagi kami, Bali bukan sekadar lokasi geografis, melainkan sebuah konteks hidup di mana sejarah, tradisi, dan praktik kontemporer terus beririsan. Kehadiran Lanö di Art & Bali menjadi kesempatan untuk membawa percakapan ini ke dalam dialog yang lebih luas, menghubungkan seniman dan gagasan dari Bali dan Indonesia dengan ekosistem seni internasional,” papar Kemalezedine.

Dari Yogyakarta, Sangkring Art Space turut memanfaatkan Art & Bali 2026 untuk menjangkau audiens dan kolektor baru di Bali. Programme Manager Sangkring Art Space, Jenny Vi Mee Yei, mengatakan keikutsertaan tersebut sekaligus menjadi langkah awal menjelang pembukaan ruang mereka di Bali pada akhir Desember 2026.

Kategori :