Umat Tri Dharma Gelar Prosesi Bakar Kimcua Saat Imlek di Gianyar
Perayaan Tahun Baru Imlek 2026 diwarnai suasana khidmat di Vihara Amurva Bhumi --Bali Spirit
GIANYAR, DISWAYBALI.ID - Perayaan Tahun Baru Imlek 2026 diwarnai suasana khidmat di Vihara Amurva Bhumi pada Selasa, 17 Februari 2026. Sejak pagi, umat Tri Dharma datang silih berganti untuk menjalankan persembahyangan.
Salah satu rangkaian ritual yang menarik perhatian adalah prosesi pembakaran uang kertas berwarna emas.
Lembaran yang dibakar bukan uang rupiah, melainkan kertas khusus yang memang dipakai sebagai sarana persembahan di kongco. Di vihara tersebut, sosok yang dimuliakan adalah Dewa Bumi.
BACA JUGA:Jejak Sejarah dan Makna Barongsai dalam Perayaan Imlek
Pengurus vihara, Hari Wijaya, menjelaskan bahwa kertas emas itu lazim ditemukan di kelenteng. Namun, di Vihara Amurva Bhumi pemujaan difokuskan pada satu dewa, yakni Dewa Bumi.
Ia menyebut kertas emas tersebut dikenal dengan istilah Kimcua. Dalam dialek Hokkien, kim berarti emas. Prosesi pembakaran dilakukan di tungku khusus yang bentuknya menyerupai pagoda dan disebut Kim Luo.
Rangkaian ibadah dimulai dari ruang kongco yang berada di sisi selatan, tepat di depan pintu utama. Setelah itu, umat melanjutkan sembahyang ke dua altar lainnya di bagian utara area vihara.
Usai berdoa, mereka menyiapkan lembaran kertas emas untuk dihaturkan melalui pembakaran di tungku tersebut.
Tidak ada ketentuan mengenai jumlah kertas yang harus dipersembahkan. Menurut Hari, semua disesuaikan dengan kemampuan masing-masing umat.
BACA JUGA:Jelang Imlek 2026, Vihara Satya Dharma Benoa Rampungkan 70 Persen Persiapan
Persembahan itu dipahami sebagai simbol ketulusan hati. Semakin tulus memberi, diyakini semakin besar pula berkah yang diterima.
Hari menambahkan, warga keturunan Tionghoa umumnya sudah menyiapkan kertas emas dari rumah ketika hendak beribadah ke kelenteng atau kongco. Meski demikian, pihak vihara juga menyediakan bagi umat yang tidak membawanya.
Selain kertas emas, terdapat pula kertas perak yang digunakan sebagai persembahan untuk leluhur atau orang tua yang telah meninggal dunia. Berbeda dengan kertas emas, kertas perak tidak dibakar di area kongco.
Salah seorang umat asal Denpasar, Amanda Yuniari, berharap di Tahun Baru Imlek 2026 dirinya dan keluarga diberi kelancaran rezeki serta keselamatan. Ia meyakini persembahan kepada Dewa Bumi bukan sekadar bentuk penghormatan, tetapi juga menjadi bekal kebaikan bagi kehidupan setelah meninggal dunia.
Sumber: