Lalat Musiman Kembali Serbu Kintamani, Limbah Ternak Jadi Pemicu Utama
Ilustrasi serbuan lalat musiman di wilayah Kintamani-Punapi Bali-
BANGLI, DISWAYBALI.ID - Fenomena lalat musiman kembali menghantui wilayah Kintamani, Kabupaten BANGLI.
Sejak awal Januari 2026, ratusan lalat terlihat berkerumun dan hinggap di berbagai sudut, mulai dari tanaman pertanian, kendaraan warga, hingga area permukiman.
Kondisi tersebut diketahui hampir selalu terjadi setiap musim hujan, khususnya pada periode Desember hingga Januari.
BACA JUGA:Pemkab Bangli Siapkan Perda Penataan Pasar Rakyat dan Toko Modern
Kepala Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan, dan Perikanan (PKP) Kabupaten Bangli, Sarma, menjelaskan bahwa curah hujan memang menjadi pemicu utama meningkatnya populasi lalat di kawasan dataran tinggi tersebut.
Namun, menurutnya, faktor lingkungan bukan satu-satunya penyebab. Aktivitas pertanian yang memanfaatkan limbah ternak sebagai pupuk juga turut berkontribusi terhadap melonjaknya jumlah lalat di Kintamani dibandingkan wilayah lain di Bangli.
Dengan luasan lahan pertanian mencapai sekitar 575 hektare, mayoritas petani di Kintamani mengandalkan pupuk organik dari kotoran hewan untuk menyuburkan lahan yang cenderung kering.
Masalahnya, limbah ternak tersebut kerap digunakan secara langsung tanpa melalui proses pengolahan terlebih dahulu. Kondisi inilah yang kemudian menjadi tempat ideal bagi lalat untuk berkembang biak.
Sarma menilai, seharusnya kotoran hewan diolah melalui proses pengomposan atau fermentasi agar aman digunakan sekaligus tidak menimbulkan dampak lingkungan.
BACA JUGA:Bangli Pasang Batasan Ketat soal Wacana Sampah dari Denpasar dan Badung
Ia menuturkan, penggunaan kotoran ayam mentah menjadi salah satu penyebab paling dominan. Limbah tersebut ditebar begitu saja di lahan pertanian tanpa pengolahan lanjutan, padahal idealnya harus diubah terlebih dahulu menjadi pupuk kandang yang layak guna.
Pemerintah Kabupaten Bangli, lanjut Sarma, sebenarnya telah melakukan berbagai upaya pencegahan. Edukasi kepada petani rutin diberikan melalui Balai Penyuluhan Pertanian Lapangan (BPPL) maupun kegiatan bimbingan teknis.
Meski demikian, tingginya ketergantungan petani terhadap pupuk organik membuat upaya pembatasan sulit diterapkan secara maksimal.
Apalagi pupuk kandang masih menjadi komponen penting dalam pertanian hortikultura Kintamani, seperti untuk komoditas tomat, bawang, dan jeruk.
Sumber: