Alarm Krisis Laut Menggema dari Bali
Pemukulan gong oleh Wamenpar RI, Ni Luh Puspa Ermawati (batik hijau) dan Wamen KKP RI, Didit Herdiawan, Jumat (30/1/2026).-Rivansky Pangau-
BADUNG, DISWAYBALI.ID — Para pemimpin negara kepulauan menyuarakan peringatan keras terkait krisis laut yang dinilai telah berada pada titik kritis.
Peringatan tersebut disampaikan dalam Bali Ocean Days 2026 yang berlangsung di Bali, di hadapan para pembuat kebijakan, ilmuwan, pelaku usaha, dan pegiat lingkungan.
Mereka menegaskan bahwa krisis laut bukan ancaman di masa depan, melainkan kondisi yang sedang berlangsung saat ini.
BACA JUGA:Bali Ocean Days 2026: Saatnya Bergerak Lebih Cepat
Pernyataan itu disampaikan oleh perwakilan negara kepulauan dari kawasan Pasifik, Afrika, dan Samudra Hindia dalam Sesi 1 Bali Ocean Days 2026 bertema Island Nations, Climate Crisis, and the Future of the Ocean.
Para pembicara dalam sesi tersebut antara lain Menteri Perikanan dan Kehutanan Fiji Alitia Bainivalu, Menteri Perikanan dan Sumber Daya Kelautan Papua Nugini Jelta Wong, serta Utusan Khusus Seychelles untuk ASEAN Nico Barito.
Bagi negara-negara kepulauan, laut tidak hanya dipandang sebagai sumber daya alam, melainkan ruang hidup, identitas, sekaligus penentu masa depan bangsa.
BACA JUGA:Bali Ocean Days 2026 Soroti Solusi Regeneratif untuk Laut Dunia
“Bagi kami, ini bukan soal statistik. Ini soal apakah anak-anak kami masih akan punya pulau untuk ditinggali,” ujar salah satu pembicara dalam sesi tersebut.
Negara-negara kepulauan kecil atau Small Island Developing States (SIDS) diketahui hanya menyumbang sebagian kecil dari total emisi global.
Namun demikian, negara-negara tersebut menjadi pihak yang paling awal dan paling berat merasakan dampak perubahan iklim.
BACA JUGA:Wali Kota Denpasar Hadiri Prosesi Mendem Pedagingan di Pura Pemayun Banjar Tegal
Dampak tersebut meliputi kenaikan muka laut, pemutihan terumbu karang, perubahan pola migrasi ikan, meningkatnya intensitas badai, serta intrusi air laut ke wilayah daratan.
Kondisi ini telah menjadi realitas sehari-hari di Fiji, Papua Nugini, Seychelles, serta berbagai negara kepulauan lainnya.
Sumber: