BBPOM Denpasar Uji 27 Sampel Takjil di Pasar Ramadan Wanasari, Pastikan Bebas Boraks dan Formalin

BBPOM Denpasar Uji 27 Sampel Takjil di Pasar Ramadan Wanasari, Pastikan Bebas Boraks dan Formalin

Salah satu petugas BBPOM Denpasar saat menguji kandungan dalam salah satu takjil yang dijual di bilangan Kampung Jawa, Wanasari, Denpasar.-Rivansky Pangau/Disway.id-

DENPASAR, DISWAYBALI.ID - Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) Denpasar melakukan pengawasan intensif di Pasar Ramadan Masjid Raya Baiturrahman, Kampung Jawa, Desa Wanasari, Denpasar Utara.

Sebanyak 27 sampel takjil diuji menggunakan metode tes cepat (test kit), dan seluruhnya dinyatakan memenuhi syarat.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala BBPOM Denpasar, Made Eri Bahari Antana, mengatakan pengambilan sampel dilakukan di sejumlah lapak penjual takjil yang ramai dikunjungi warga.

BACA JUGA:BPOM dan Polda Metro Jaya Bongkar Gudang Obat Ilegal Senilai Rp 2,7 Miliar

“Kita sampling 27 sampel ya di seputaran penjualan takjil. Dari 27 sampel ini kalau hasil uji dengan kit ya dengan tes kit ini semuanya memenuhi syarat,” ujarnya saat dikonfirmasi, Sabtu, 21 Februari 2026.

Sampel yang diperiksa meliputi sate lilit, bakso, jajanan tradisional, minuman berwarna, hingga terasi. Seluruhnya negatif dari kandungan bahan berbahaya.

BBPOM memfokuskan pengujian pada bahan yang kerap disalahgunakan, seperti pewarna tekstil Rhodamin B atau kesumba, boraks, dan formalin. 

“Nah untuk memastikan ya tetap harus diuji karena itulah kita menggunakan test kit, jadi warnanya biasanya ngejreng. Tapi sekarang dari warna aja kita sudah bisa menduga, tidak ada penggunaan. Tapi untuk memastikan, kita lakukan pengujian,” jelasnya.

BACA JUGA:Uji Coba Rekayasa Lalu Lintas Kerobokan, MTI Bali Dorong Evaluasi Harian

Boraks biasanya digunakan untuk membuat tekstur kerupuk atau bakso lebih kenyal. Sedangkan formalin kerap disalahgunakan untuk mengawetkan makanan seperti sate atau pepes ikan. Dalam pemeriksaan kali ini, seluruh sampel dinyatakan aman.

Terasi yang sempat dicurigai karena warna lebih merah juga diuji dari dua merek berbeda. Hasilnya tetap negatif.

Menurut Eri, hasil ini menunjukkan efektivitas pembinaan rutin yang dilakukan setiap Ramadan. Tahun lalu, di lokasi yang sama, juga tidak ditemukan pelanggaran.

“Jadi para pelaku usaha yang di sini, penjual takjil, mereka sudah semua mengikuti ketentuan. Sampai saat ini tidak ada ditemukan ya. Tahun lalu juga negatif, tidak ada ditemukan bahan-bahan berbahaya seperti itu,” katanya.

Ia mengingatkan, penggunaan bahan berbahaya memang tidak selalu berdampak langsung. Namun, efeknya bisa muncul dalam jangka panjang.

Sumber: