Umat Buddha di Bangli Gelar Puja Paritta Sambut Waisak 2570 B.E./2026
Sambut Vesakha Sananda 2570 B.E./2026, umat Buddha di Vihara Dhamma Ratana Langgahan menggelar persembahyangan dan Puja Paritta.-banglikab-
BANGLI, DISWAYBALI.ID - Dalam rangka menyambut Vesakha Sananda 2570 B.E./2026, umat Buddha di Vihara Dhamma Ratana Langgahan menggelar persembahyangan dan Puja Paritta pada 1 Mei 2026.
Kegiatan ini menjadi bagian awal dari rangkaian perayaan Waisak sekaligus momentum untuk memperkuat nilai spiritual dan kebersamaan umat.
Kantor Kementerian Agama Kabupaten Bangli melalui Penyelenggara Buddha bersama jajaran staf turut hadir dalam kegiatan tersebut. Kehadiran mereka menjadi bentuk dukungan sekaligus sinergi antara pemerintah dan umat Buddha dalam menjaga kehidupan beragama yang harmonis di tengah masyarakat.
BACA JUGA:Walikota Denpasar Perkuat Sinergi dengan Kanwil Kemenag Bali Lewat Kunjungan Silaturahmi
Suasana persembahyangan berlangsung khidmat sejak awal acara. Lantunan doa dan Puja Paritta yang dibacakan bersama menciptakan nuansa tenang di area vihara. Tidak hanya menjadi ritual keagamaan, kegiatan ini juga dimaknai sebagai sarana refleksi diri untuk memperkuat kesadaran batin, menumbuhkan ketenangan, dan mempererat rasa persaudaraan antarumat.
Acara semakin mendapat perhatian dengan hadirnya Budi Setiawan, mantan Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Buddha Kementerian Agama RI periode 2006–2011 yang juga pernah menjabat sebagai Kapolda Bali pada 2001–2003. Kehadirannya didampingi jajaran personel Polda Bali dan Kintamani, Pembimas Buddha, serta Penyelenggara Buddha Kabupaten Bangli beserta staf terkait.
Dalam kesempatan itu, Budi Setiawan menyampaikan apresiasinya terhadap keberadaan Vihara Dhamma Ratana Langgahan. Ia menilai vihara tersebut memiliki daya tarik tersendiri, terutama dari sisi arsitektur yang memadukan unsur budaya Bali dan Tiongkok secara harmonis. Perpaduan tersebut dinilai tidak hanya memperindah bangunan, tetapi juga mencerminkan keberagaman budaya yang hidup berdampingan dengan damai.
Menurutnya, vihara memiliki fungsi yang lebih luas daripada sekadar tempat ibadah. Selain menjadi pusat kegiatan spiritual umat Buddha, vihara juga berperan sebagai ruang pembinaan moral dan penguatan nilai-nilai kebajikan dalam kehidupan sehari-hari.
Ia juga menekankan bahwa perayaan Waisak seharusnya tidak hanya dimaknai sebagai kegiatan seremonial tahunan. Lebih dari itu, Waisak menjadi pengingat bagi umat untuk terus menumbuhkan sikap welas asih, kebijaksanaan, dan semangat menjaga kedamaian di tengah kehidupan bermasyarakat.
BACA JUGA:Kanwil Kemenag Bali Gelar Rapat Penyelarasan Data dan Pengalihan ASN Layanan Haji dan Umrah
Melalui Puja Paritta perdana ini, umat Buddha diharapkan dapat semakin memahami makna spiritual Waisak secara mendalam. Tidak hanya menjalankan tradisi, tetapi juga membawa nilai-nilai kebaikan tersebut dalam kehidupan sehari-hari agar tercipta kehidupan yang lebih harmonis, damai, dan penuh toleransi.
Sumber: