BACA JUGA:Pemprov Bali 'Suntik' Modal Rp1,4 Triliun untuk Pusat Kebudayaan
Koster menargetkan seluruh rangkaian shortcut Singaraja–Mengwitani, dari titik 1 hingga titik 12, dapat rampung sebelum akhir masa jabatan periode keduanya pada Februari 2030.
Ia menegaskan penyelesaian proyek ini diharapkan menjadi warisan pembangunan yang dirasakan langsung manfaatnya oleh masyarakat Bali, khususnya warga Buleleng.
Sementara itu, Direktur Pembangunan Jalan Direktorat Jenderal Bina Marga Kementerian Pekerjaan Umum, Asep Syarif Hidayat, menyatakan dukungan penuh pemerintah pusat terhadap proyek tersebut.
Untuk titik 9 dan 10, total panjang pekerjaan mencapai 3,90 kilometer, yang terdiri dari ruas jalan sepanjang 2,95 kilometer dan jembatan sepanjang 942 meter.
Pada Paket 1, nilai kontrak proyek tercatat sebesar Rp290,84 miliar dengan masa pelaksanaan selama 750 hari kalender. Paket ini mencakup pembangunan jalan sepanjang 0,93 kilometer serta tiga jembatan dengan total panjang 593 meter, yang dikerjakan oleh Waskita–Sinarbali KSO dengan pendanaan SBSN Tahun Anggaran 2025–2027.
BACA JUGA:BIRF 2026 Siap Digelar di Buleleng, Hadirkan Pertunjukan Seni Budaya Internasional
Asep menjelaskan, kondisi eksisting jalur Singaraja–Mengwitani sebelumnya memiliki tingkat risiko kecelakaan yang tinggi. Kelandaian jalan mencapai 27 persen, dengan catatan sekitar 140 kecelakaan per tahun dan 16 korban meninggal dunia. Melalui perbaikan geometrik jalan, kelandaian diturunkan hingga maksimal 10 persen, jumlah tikungan berkurang signifikan, serta waktu tempuh dipangkas dari sekitar 21 menit menjadi kurang dari sembilan menit.
Selain aspek keselamatan, proyek ini juga dinilai berdampak pada efisiensi perjalanan dan penurunan emisi karbon kendaraan hingga sekitar 10 persen.
Hingga saat ini, Pemprov Bali telah membebaskan 316 bidang tanah dengan nilai mencapai Rp193 miliar untuk mendukung pembangunan sejumlah titik shortcut.
Namun, untuk menyelesaikan seluruh ruas Singaraja–Mengwitani masih dibutuhkan pembangunan lanjutan pada titik 1–2, Paket 3 titik 9–10, serta titik 11–12 dengan estimasi anggaran sekitar Rp512 miliar.
Adapun titik shortcut yang telah rampung meliputi titik 3, 4, 5, 6, 7A–C, 7D–E, dan 8 dengan total panjang 5,68 kilometer dan anggaran sekitar Rp396,7 miliar.
BACA JUGA:Buleleng Rencanakan Festival Tiap Kecamatan, UMKM dan Seniman Lokal Jadi Fokus
Ke depan, Koster juga berencana mengoperasikan layanan bus rute Singaraja–Denpasar setiap hari setelah seluruh titik shortcut selesai dibangun.
Selain itu, layanan Trans Metro Dewata direncanakan akan diperluas hingga ke Buleleng. Fasilitas transportasi ini disiapkan untuk membantu mobilitas masyarakat, termasuk pegawai asal Buleleng yang bekerja di Denpasar dan Badung agar tidak perlu lagi menetap di kos-kosan.
Pemerintah Provinsi Bali juga menargetkan pengoperasian bus listrik di Buleleng setelah menerima bantuan 10 unit bus listrik dari Korea yang dijadwalkan tiba paling lambat September 2026, dengan skema tarif sewa yang terjangkau bagi masyarakat.