Menurutnya, BBTF menjadi ruang penting untuk mempertemukan pasar dan industri. Sekaligus menyelaraskan arah kebijakan agar Bali tetap dipercaya dunia.
Dari sisi industri, BBTF 2026 menunjukkan perubahan preferensi buyer global. Mereka tidak hanya mencari produk menarik secara visual, tetapi juga siap dijual.
“Buyer kini mempertimbangkan harga yang jelas, narasi yang kuat, standar layanan, dan kemudahan kerja sama. Tren wisata seperti culture, gastronomy, wellness, sustainability, family travel, luxury, dan special interest tourism juga menjadi perhatian,” papar Koster.
Forum penutupan turut menyoroti pentingnya koordinasi lintas sektor.
Terutama untuk memperkuat pasar bernilai tinggi dan pasar long-haul.
Dukungan Kementerian Pariwisata, Kementerian Luar Negeri, perwakilan Indonesia di luar negeri, airline, pemerintah daerah, ASITA, seller, dan destination partners dinilai sangat penting.
Tujuannya memperkuat promosi, akses penerbangan, market intelligence, dan kesiapan produk Indonesia.
Pada kesempatan tersebut, panitia juga memperkenalkan arah awal penyelenggaraan BBTF 2027.
Ajang ke-13 itu dijadwalkan berlangsung pada 9-11 Juni 2027 di lokasi yang sama.
BBTF 2027 mengusung tema “Bali & Beyond: Regenerative Travel, Elevated”.
Tema tersebut menjadi kelanjutan dari pembahasan gastronomi, budaya, dan warisan berkelanjutan yang diangkat tahun ini.
Fokusnya adalah bagaimana pariwisata dapat memberi dampak lebih positif. Baik bagi destinasi, masyarakat, budaya, lingkungan, maupun ekonomi lokal.
“Melalui tema ‘Bali & Beyond: Regenerative Travel, Elevated’, BBTF 2027 akan membawa percakapan pariwisata Indonesia ke tingkat yang lebih tinggi: bukan hanya tentang pertumbuhan, tetapi tentang kualitas pertumbuhan dan dampak positif bagi masyarakat, budaya, dan alam,” tutup Winastra.
Dengan berakhirnya BBTF 2026, panitia kembali menegaskan nilai utama travel fair tersebut. Bukan sekadar transaksi, melainkan hubungan jangka panjang dan penguatan kemitraan.
BBTF 2026 menjadi pengingat bahwa masa depan pariwisata Indonesia harus dibangun melalui kualitas. Kesiapan destinasi, produk siap jual, dan kolaborasi lintas sektor menjadi fondasi utamanya.(*)