Aspek kualitas lingkungan juga harus menjadi perhatian, agar pembangunan berlangsung secara berkelanjutan.
BACA JUGA:Grand Final Jegeg Bagus Gianyar 2026: Yunita Purnama Sari dan Ari Dwarsa Resmi Jadi Duta Pariwisata
Dosen Program Sarjana Ekonomi FEB Universitas Udayana, Putu Krisna Adwitya Sanjaya, menilai upaya rendah emisi merupakan bagian penting dari target Sustainable Development Goals (SDGs).
“Bagaimana kita bisa bertindak secara langsung untuk perencanaan masa mendatang, tidak hanya perencanaan jangka pendek seperti yang dipelajari dalam ilmu ekonomi pembangunan berkelanjutan. Saya kira apa yang sudah dilakukan oleh teman-teman WRI Indonesia ini bersama desa adat sudah menjadi langkah serius untuk lingkungan,” terangnya.
Krisna juga melihat munculnya green jobs dan digital nomad sebagai peluang baru bagi generasi muda Bali.
Selain membuka alternatif karir, model pekerjaan tersebut dinilai mampu mengurangi kebutuhan mobilitas karena dapat dilakukan secara fleksibel.
Ia menambahkan Bali kerap menjadi pusat perhatian dunia dalam isu pariwisata dan pembangunan berkelanjutan.
BACA JUGA:Kemala Run 2026 Dorong Pariwisata dan Ekonomi Bali hingga Rp140 Miliar
Karena itu, keterlibatan masyarakat dan perguruan tinggi dinilai penting agar nilai-nilai keberlanjutan menjadi kepemilikan bersama.
Krisna berharap mahasiswa tidak hanya menjadi penonton dalam agenda pembangunan berkelanjutan di Bali.
“Bagaimana kita sebagai civitas akademika dan masyarakat di Bali kedepannya tidak hanya menjadi penonton saja, melainkan ikut serta mengambil peran strategis dalam perencanaan berkelanjutan yang berorientasi lingkungan, sejalan dengan Palemahan dalam Tri Hita Karana. Harapannya dengan kunjungan ini dan dialog dalam Bali Bicara: Kawasan Rendah Emisi, dari skala mahasiswa juga ada yang mulai tertarik untuk mengambil penelitian atau skripsi yang berhubungan dengan keberlanjutan,” pungkas Krisna.(*)