DENPASAR, DISWAYBALI.ID – World Resources Institute (WRI) Indonesia mengungkap sejumlah indikator yang dapat digunakan, untuk mengukur keberhasilan penerapan Kawasan Rendah Emisi (KRE) Sanur.
Pengukuran tidak hanya dilihat dari penurunan emisi karbon, tetapi juga dari perubahan jumlah kendaraan, kualitas udara, hingga dampak sosial-ekonomi yang dirasakan masyarakat.
Hal tersebut disampaikan Bali Transport Decarbonization Project Lead WRI Indonesia, Haiqal Rizaldi dalam Workshop Jejaring Jurnalis Iklim bersama Anggota Koalisi Bali Energi Nol Bersih secara daring, Selasa (6/10/2026) malam.
Menjawab pertanyaan mengenai apakah ada indikator bahwa Sanur benar-benar lebih rendah emisi dibandingkan kawasan lain, WRI menyebut pengukuran emisi menjadi indikator utama.
“Tentu pengukuran dari emisinya sendiri. Kita bisa mengukur sebenarnya secara tahunan dengan pendekatan faktor emisi sekian-sekian, itu bisa dilihat bagaimana penurunannya,” ujar Haiqal.
BACA JUGA:Gebyar Literasi Sanur Dorong Generasi Kreatif, dari Budaya hingga Karya Digital Bernilai Ekonomi
Selain emisi, indikator lainnya dapat dilihat dari jumlah kendaraan yang melintas serta kualitas udara di kawasan tersebut.
Menurutnya, perubahan Indeks Kualitas Udara (IKU) juga dapat menjadi salah satu parameter untuk melihat dampak intervensi yang dilakukan di Sanur.
Namun, pengukuran kualitas udara dan emisi di suatu kawasan tidak sederhana. Sebab, kondisi udara dapat dipengaruhi berbagai faktor eksternal yang berasal dari luar kawasan.
“Udara itu tidak punya KTP. Banyak sekali faktor-faktor eksternal yang memengaruhi suatu kawasan itu apakah sudah turun emisinya atau tidak,” jelas Haiqal.
Karena itu, WRI menekankan bahwa Kawasan Rendah Emisi bukan semata-mata target akhir berupa angka penurunan emisi.
KRE justru diposisikan sebagai strategi untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat melalui perubahan sistem mobilitas dan penataan kawasan.
BACA JUGA:Perluas Peran di Ekosistem Pangan ID FOOD, BTN Siap Gelontorkan Pembiayaan Rp3 Triliun
“LEZ (Low Emission Zone/KRE, red) ini bukan sebagai tujuan. LEZ ini adalah strategi untuk bisa meningkatkan kualitas hidup masyarakat di sana,” kata Haiqal lagi.
Menurut dia, keberhasilan intervensi di Sanur juga perlu dilihat dari manfaat yang dirasakan masyarakat dan pelaku ekonomi.