Lebih Dari Hari Kasih Sayang, Ini Makna Tumpek Krulut dalam Tradisi Bali

Lebih Dari Hari Kasih Sayang, Ini Makna Tumpek Krulut dalam Tradisi Bali

Makna mendalam tentang Tumpek Krulut--Desadalung Badung

DENPASAR, DISWAYBALI.ID - Tempuk Krulut kerap dikenali sebagai hari kasih sayang dalam tradisi Bali, tetapi makna yang dikandungnya jauh melampaui pemahaman cinta dalam relasi romantis.

Tempuk Krulut ini menjadi ruang perenungan tentang bagaimana manusia merawat rasa kepada sesama, alam, dan keindahan yang hadir melalui seni dan suara. Tumpek Klurut mengajarkan bahwa kasih sayang tidak selalu diekspresikan melalui gestur besar, melainkan melalui sikap yang penuh dengan empati, tutur kata yang halus, serta kesadaran akan dampak yang nantinya hadir.

Maka dari itu Tumpek Klurut hadir sebagai pengingat untuk kembali menumbuhkan kepekaan batin, menghargai keindahan, dan menjadikan kasih sayang sebagai laku hidup yang sederhana tetapi sangat bermakna.

BACA JUGA:Deretan Makanan yang Membantu Mencegah Kolestrol Tinggi, Mudah Ditemukan Sehari-hari

Tumpek Krulut yang sering kali dikenal sebagai hari kasih sayang dalam tradisi Bali, tetapi sebenarnya makna dari Tumpek Krulut jauh melampaui dari sekedar pengertian cinta di dalam hubungan yang romantis.

Dalam kalender Pawukon Bali, Tumpek Krulut merupakan salah satu dari enam hari Tumpek yang diperingati setiap 210 hari. Tumpek Krulut ini secara khusus dikaitkan dengan penghormatan terhadap Dewa Iswara, manifestasi Ida Sang Hyang Widhi yang melambangkan keindahan, keharmonisan, dan kesucian suara.

Maka dari itu biasanya Tumpek Krulut identik dengan hal yang berbau seni, terutama seni suara seperti Gamelan, Tembang, dan berbagai bentuk ekspresi artistik lainnya. Filosofi utama dari Tumpek Krulut terletak pada konsep kasih sayang yang luas dan inklusif.

Cinta tidak dipahami semata sebagai relasi antara pasangan, melainkan sikap batin yang tercermin dalam empati, tutur kata, serta cara manusia memperlakukan lingkungan di sekitarnya.

Pada hari ini, masyarakat diajak untuk menyadari bahwa suara, baik yang diucapkan maupun yang dihasilkan melalui seni memiliki kekuatan untuk menenangkan, menyembuhkan, sekaligus dapat melukai.

BACA JUGA:Sarapan Pakai Buah Naga? Ini Manfaat Sehatnya yang Jarang Disadari

Dewa Iswara yang dipuja dalam Tumpek Klurut sering dimaknai sebagai simbol kesimbangan rasa. Suara yang indah lahir dari keharmonisan, bukan dari paksaan. Filosofi ini kemudian diterjemahkan dalam kehidupan sehari-hari, di mana berbicara dengan penuh kesadaran, menyampaikan pendapat tanpa menyakiti, serta menjaga perasaan orang lain melalui sikap yang halus dan beretika.

Di Bali peringatan Tumpek Krulut biasanya diiringi dengan persembahan dan doa, termasuk pemberkatan alat-alat seni seperti Gamelan. Namun esensinya tidak hanya berhenti pada simbol. Hari ini menjadi momentum refleksi untuk kembali menghargai keindahan yang sering terabaikan di tengah rutinitas.

Tumpek Krulut hadir sebagai pengingat bahwa kasih sayang dapat diwujudkan melalui hal yang sederhana, memilih kata yang tidak melukai, mendengarkan dengan empati, dan memberi ruang bagi keheningan serta keindahan.

Lebih dari sekedar tradisi, Tumpek Krulut mengajarkan bahwa mencintai tidak selalu memiliki. Cinta bisa hadir dalam bentuk penghargaan, kepedulian, dan kepekaan terhadap sesama dan lingkungan.

Sumber: