Salah satu manfaat yang menjadi perhatian pemerintah adalah potensi penghematan anggaran negara. Program PLTS 100 GWp diperkirakan dapat menghemat APBN hingga Rp73,9 triliun per tahun melalui pemanfaatan energi surya dan sistem penyimpanan baterai.
Untuk 15 proyek awal dengan kapasitas sekitar 5,3 GWp, potensi penghematan anggaran diperkirakan mencapai Rp4,6 triliun per tahun.
Penghematan tersebut berkaitan dengan peluang mengurangi penggunaan bahan bakar untuk pembangkit listrik. Semakin besar porsi energi surya yang dapat dimanfaatkan secara andal, semakin terbuka peluang mengurangi kebutuhan bahan bakar tertentu di sejumlah sistem kelistrikan.
Meski begitu, besaran penghematan aktual akan bergantung pada realisasi proyek, biaya investasi, kebutuhan operasional, kemampuan sistem baterai, dan kondisi jaringan listrik di setiap wilayah.
Karena itu, angka penghematan yang disampaikan pemerintah masih merupakan proyeksi. Evaluasi berkala diperlukan untuk mengetahui sejauh mana manfaat ekonomi tersebut benar-benar tercapai setelah pembangkit beroperasi.
Penggunaan Diesel Bisa Dipangkas hingga 6 Juta Kiloliter
Selain mengurangi beban anggaran, pengembangan PLTS juga diproyeksikan menekan konsumsi bahan bakar minyak, terutama diesel yang digunakan untuk pembangkit listrik di sejumlah wilayah.
Pemerintah memperkirakan program PLTS 100 GWp dapat menghemat penggunaan bahan bakar diesel hingga 6 juta kiloliter per tahun di seluruh Indonesia.
Khusus untuk 15 proyek tahap awal, potensi penghematan diesel diperkirakan mencapai 319.998 kiloliter per tahun.
Program tersebut juga diperkirakan menghemat penggunaan gas alam sekitar 35,66 ribu MMSCF per tahun. MMSCF merupakan singkatan dari million standard cubic feet, yaitu satuan volume gas dalam jutaan kaki kubik pada kondisi standar.
Pengurangan konsumsi bahan bakar berpotensi membantu memperkuat ketahanan energi, terutama apabila energi surya dapat menggantikan sebagian kebutuhan pembangkit berbahan bakar fosil secara efektif.
Namun, energi surya memiliki karakteristik produksi yang mengikuti ketersediaan sinar matahari. Oleh karena itu, sistem penyimpanan energi dan pengelolaan jaringan menjadi bagian penting agar pasokan listrik tetap terjaga ketika produksi PLTS menurun.
BACA JUGA:Lautan Luas Percepat Transisi Energi, Gandeng Greenvolt Bangun PLTS di 8 Fasilitas
PLTS 100 GWp Berpotensi Tekan Emisi 140 Juta Ton CO₂
Dari sisi lingkungan, program PLTS 100 GWp diproyeksikan dapat menurunkan emisi gas rumah kaca sekitar 140 juta ton karbon dioksida (CO₂).
Penurunan emisi tersebut berpotensi mendukung upaya Indonesia mengurangi dampak perubahan iklim melalui peningkatan penggunaan energi rendah karbon.
Selain itu, pemerintah memperkirakan program ini dapat membuka potensi pasar karbon senilai Rp6,31 triliun, dengan asumsi harga karbon sebesar USD4 per ton CO₂ ekuivalen.
Meski demikian, potensi nilai pasar karbon tidak otomatis menjadi pendapatan yang langsung diterima pemerintah atau pelaksana proyek.