Deon menegaskan, jika pemerintah ingin mencapai target 100 GWp pada 2029, penurunan harga listrik PLTS perlu mulai dikejar sejak 2027.
“Kalau memang mau 100 gigawatt secepat-cepatnya di 2029, maka 2027 harga PLTS yang tadinya 5–10 sen itu perlu ditekan dengan cepat jadi 3,5 sampai 5 sen tadi. Itu harus bersegera terjadi,” jelasnya.
Menurut Dr. Dessy Rachmawatie, M.Si., pakar ekonomi energi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (FEB UMY) pada momentum ini Indonesia diharapkan bukan sekadar menjadi konsumen teknologi negara lain.
Dessy yang telah meneliti pengembangan energi terbarukan Indonesia sejak 2013 menilai kebijakan ini bukan sekadar proyek kelistrikan. Ia melihatnya sebagai strategi besar yang bisa menggerakkan ekonomi desa, membuka lapangan kerja, dan mempercepat pemerataan pembangunan wilayah.
“Kalau kebijakan ini berhasil dikelola, kita bisa menggerakkan ekonomi desa, membuka lapangan pekerjaan, dan mengurangi ketimpangan pembangunan wilayah. Ini bukan hanya soal listrik,” ujar Dessy.