PJBL memberikan kepastian offtake listrik, sekaligus menjamin keberlanjutan operasional proyek dalam jangka panjang. Langkah tersebut memperkuat kepastian investasi, bagi pengembangan PSEL di Bali.
Sejak Perpres Nomor 109 Tahun 2025 diterbitkan, DIM dan Denera mempercepat tahapan implementasi proyek.
Seluruh proses dilakukan dengan prinsip kehati-hatian, transparansi, serta tata kelola yang baik.
BACA JUGA:Bali–Tiongkok Perkuat Kerja Sama PSEL, Digitalisasi dan Ekspor Manggis
DIM dan Denera telah menyelesaikan seleksi mitra teknologi, pembentukan Badan Usaha Pengembang dan Pengelola (BUPP), hingga proses perizinan.
Tahapan tersebut juga mencakup pematangan lahan, serta penyusunan Perjanjian Kerja Sama dengan pemerintah daerah.
Tiga proyek tahap pertama telah ditetapkan sebagai Proyek Strategis Nasional (PSN). Penetapan itu mempertegas perannya, dalam agenda prioritas pembangunan nasional.
Menteri Koordinator Bidang Pangan Republik Indonesia, Zulkifli Hasan, menyampaikan deregulasi menjadi kunci percepatan pembangunan PSEL.
“Saya menyampaikan terima kasih kepada Danantara Indonesia, pemerintah daerah, PLN, dan seluruh pihak yang bekerja bersama mewujudkan dimulainya pembangunan PSEL Bali,” tuturnya.
BACA JUGA:Membentuk Sirkular Ekonomi Serta Kemandirian Nasional dengan Mengolah Sampah Plastik
Lanjut Zulhas—sapaan akrabnya, program ini dapat berjalan karena hambatan regulasi yang selama bertahun-tahun memperlambat penyelesaian persoalan sampah, mulai disederhanakan melalui deregulasi. “Dengan aturan yang lebih jelas, kerja sama yang kuat, dan tata kelola yang baik, saya yakin pengelolaan sampah dapat kita percepat, untuk memberi manfaat nyata bagi masyarakat dan lingkungan,” tukasnya.
Pembangunan PSEL Bali merupakan hasil kolaborasi lintas kementerian, pemerintah daerah, Danantara Indonesia, serta BUPP. Kolaborasi tersebut dipimpin Kementerian Koordinator Bidang Pangan, bersama kementerian dan lembaga terkait.
PSEL Bali tidak hanya dirancang sebagai fasilitas industri, tetapi juga menjadi bagian wajah baru Pulau Dewata.
Untuk seluruh konsep bangunan mengusung filosofi Tri Hita Karana, yang menekankan harmoni manusia, alam, dan Tuhan.
Konsep tersebut diwujudkan melalui menara terinspirasi Menara Meru, fasad bermotif tenun dan ukiran Bali, serta material lokal. Kawasan PSEL juga dilengkapi Visitor Center, beserta jalur edukasi bagi pelajar, mahasiswa, peneliti, dan masyarakat umum.(*)