Sebelumnya, program serupa telah dijalankan di beberapa provinsi, seperti Sulawesi Selatan, Kalimantan Timur, Jawa Tengah, dan Riau, sebelum akhirnya diterapkan di Bali.
Akmal Malik menegaskan bahwa selama ini pembangunan sektor pertanian masih lebih banyak berfokus pada infrastruktur dan sarana produksi.
Sementara itu, pembangunan etos, semangat, dan budaya menanam dinilai belum digarap secara maksimal.
“Kunci kemandirian pangan ada pada etos dan budayanya. Bali dikenal sebagai daerah tujuan wisata karena budayanya. Selama ini budaya seni yang ditonjolkan, ke depan kita ingin mendorong budaya menanam. Dampaknya sangat besar terhadap kemandirian pangan,” ujarnya.
Ia mencontohkan kebutuhan bahan pangan dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang memerlukan pasokan besar, seperti telur dan sayuran, sementara produksi lokal masih belum sepenuhnya mampu memenuhi kebutuhan tersebut.
BACA JUGA:Perluas Layanan Transportasi Umum, Bus Trans Metro Dewata Bersiap Masuk Buleleng
Oleh karena itu, sekolah dinilai memiliki peran penting, tidak hanya sebagai pusat edukasi, tetapi juga sebagai pusat produksi pangan skala kecil yang berkelanjutan.
Yayasan Swatantra Pangan Nusantara pun berkomitmen untuk melakukan pendampingan secara berkelanjutan dengan melibatkan organisasi petani serta generasi muda.
Akmal Malik berharap program ini dapat berkembang menjadi percontohan di tingkat nasional dan melahirkan gagasan-gagasan besar yang berawal dari Buleleng.
“Buleleng memiliki spirit yang kuat dan telah melahirkan banyak tokoh hebat. Kami berharap program ini menjadi pemicu lahirnya inovasi dan budaya menanam yang bisa diadopsi secara luas,” pungkasnya.